JAKARTA – Wacana pembentukan BUMN baru di sektor tekstil kembali mengemuka. Pemerintah, lewat Danantara, sedang mengkaji langkah ini sebagai salah satu strategi untuk menguatkan industri padat karya. Tak cuma itu, langkah ini juga diarahkan untuk menangani perusahaan tekstil yang masuk kategori aset bermasalah. Jadi, tujuannya ganda: bangun yang baru dan perbaiki yang lama.
CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, angkat bicara soal ini. Ia menegaskan bahwa setiap keputusan investasi pemerintah tak pernah gegabah. Semuanya lewat feasibility study dan asesmen menyeluruh, dari sisi bisnis, pasar, hingga dampak sosial-ekonominya.
“Tentunya juga kita kan ada kriteria-kriteria atau parameter-parameter yang harus kita penuhi. Termasuk juga parameter bahwa kita masuk itu adalah lapangan pekerjaan,” ujarnya usai konferensi pers Realisasi Investasi 2025 di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Namun begitu, Rosan mengaku pemerintah punya fleksibilitas. Dalam kasus tertentu, mereka membuka ruang untuk masuk ke proyek dengan tingkat pengembalian finansial yang lebih rendah. Syaratnya sederhana: manfaatnya untuk penyerapan tenaga kerja harus sangat besar.
“Kita terbuka untuk menerima, misalnya investasi yang secara return mungkin lebih rendah dari parameter kita, apabila penciptaan lapangan pekerjaan lebih tinggi,” lanjutnya.
Alasannya jelas. Menurut Rosan, sektor tekstil punya karakteristik khusus sebagai industri padat karya yang perannya vital bagi perekonomian daerah. Jadi, ketika ada perusahaan yang tertekan keuangannya, pemerintah melihat masih ada peluang. Peluang untuk melakukan turnaround lewat restrukturisasi menyeluruh, bukan cuma sekadar suntikan modal yang sifatnya sementara.
Pendekatannya pun disebut lebih komprehensif. Rosan menegaskan, restrukturisasi yang disiapkan tak cuma urusan permodalan belaka. Ia menyebut penjaminan pasar, penyiapan offtaker, perbaikan rantai pasok, sampai efisiensi operasional. Pola ini, katanya, mirip dengan yang sudah diterapkan dalam penataan sejumlah BUMN sebelumnya.
Lalu, bagaimana skema kelembagaannya? Soal ini, Rosan menyebut pemerintah masih membuka semua opsi. Mulai dari bikin BUMN baru di sektor tekstil, memperkuat entitas yang sudah ada, hingga menjajaki kerja sama dengan investor strategis. Semua masih digodok, belum ada keputusan final.
“Seperti yang kita lakukan misalnya di perusahaan-perusahaan BUMN lainnya, yang memang perlu mendapatkan penyehatan secara keseluruhan. Tidak hanya dari permodalan saja, tapi juga dari pasarnya, dari offtaker-nya, dan lain-lain. Jadi kita terbuka untuk itu,” pungkas Rosan.
Jadi, rencananya masih mengambang. Tapi sinyalnya jelas: pemerintah serius ingin menggarap sektor tekstil, dengan segala kompleksitas dan potensi penyerapan tenaga kerjanya.
Artikel Terkait
Indospring Ekspansi Ekspor ke Pasar Timur Tengah
PT Adhi Kartiko Pratama Ambil Pinjaman Rp100 Miliar dari Bank UOB
Analis Prediksi IHSG Lanjutkan Koreksi, Waspadai Level Support 7.712
PT Surya Permata Andalan Resmi Berganti Nama Jadi Olympus Strategic Indonesia