Alasannya jelas. Menurut Rosan, sektor tekstil punya karakteristik khusus sebagai industri padat karya yang perannya vital bagi perekonomian daerah. Jadi, ketika ada perusahaan yang tertekan keuangannya, pemerintah melihat masih ada peluang. Peluang untuk melakukan turnaround lewat restrukturisasi menyeluruh, bukan cuma sekadar suntikan modal yang sifatnya sementara.
Pendekatannya pun disebut lebih komprehensif. Rosan menegaskan, restrukturisasi yang disiapkan tak cuma urusan permodalan belaka. Ia menyebut penjaminan pasar, penyiapan offtaker, perbaikan rantai pasok, sampai efisiensi operasional. Pola ini, katanya, mirip dengan yang sudah diterapkan dalam penataan sejumlah BUMN sebelumnya.
Lalu, bagaimana skema kelembagaannya? Soal ini, Rosan menyebut pemerintah masih membuka semua opsi. Mulai dari bikin BUMN baru di sektor tekstil, memperkuat entitas yang sudah ada, hingga menjajaki kerja sama dengan investor strategis. Semua masih digodok, belum ada keputusan final.
“Seperti yang kita lakukan misalnya di perusahaan-perusahaan BUMN lainnya, yang memang perlu mendapatkan penyehatan secara keseluruhan. Tidak hanya dari permodalan saja, tapi juga dari pasarnya, dari offtaker-nya, dan lain-lain. Jadi kita terbuka untuk itu,” pungkas Rosan.
Jadi, rencananya masih mengambang. Tapi sinyalnya jelas: pemerintah serius ingin menggarap sektor tekstil, dengan segala kompleksitas dan potensi penyerapan tenaga kerjanya.
Artikel Terkait
Astra Siapkan Rp2 Triliun untuk Buyback, Saham ASII Diincar Lagi
Menteri Purbaya Turun Langsung ke Kantor Danantara Usai Keluhan Pedas soal Coretax
Chandra Asri Pacu Peringkat ESG, Raih Nilai A- untuk Ketahanan Air
Geliat BUMN Tekstil Pacu Saham Emiten Melambung 35%