Level psikologis itu akhirnya terlampaui. Pada Rabu, 14 Januari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus angka 9.000, menutup perdagangan di posisi 9.032,584. Kenaikan hampir satu persen ini sekaligus memecahkan rekor all-time-high baru.
Pencapaian ini tentu bukan kebetulan. Menurut Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), Kautsar Primadi Nurahmad, ini adalah bukti nyata fondasi ekonomi yang solid dan optimisme pasar yang meluap di awal tahun.
"Capaian ini merupakan cerminan semakin kuatnya kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional di tahun 2026. Dukungan kebijakan Pemerintah Republik Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi turut berperan penting dalam menciptakan sentimen positif yang konsisten di pasar," jelas Kautsar.
Ia menambahkan, penguatan ekosistem pasar modal ini adalah hasil kolaborasi. BEI, OJK, serta lembaga pendukung seperti KPEI dan KSEI disebutnya berhasil bersinergi menciptakan pasar yang tangguh dan kompetitif di mata dunia.
Momentum ini sebenarnya sudah terlihat sejak tahun lalu. Pada 2025, IHSG tercatat melesat 22,10 persen dan memecahkan rekor ATH sebanyak 24 kali. Pertumbuhannya agresif banget. Hingga akhir tahun, jumlah investor melonjak ke angka 20,3 juta. Ada 26 saham baru yang tercatat lewat IPO, menghimpun dana segar Rp18,1 triliun enam di antaranya masuk kategori Lighthouse IPO.
"Pencapaian tersebut menegaskan posisi pasar modal Indonesia yang semakin resilien dan berdaya saing global, sekaligus memperkuat peran BEI dalam mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan," tutur Kautsar menegaskan.
Jadi, tembusnya level 9.000 ini bukan sekadar angka. Ia seperti puncak gunung es dari sebuah perjalanan panjang yang penuh optimisme. Pasar modal Indonesia tampaknya sedang dalam momen terbaiknya.
Artikel Terkait
Salim Ivomas (SIMP) Catat Laba Bersih Rp2,07 Triliun, Tumbuh 33% di 2025
Proyek Giant Sea Wall Butuh Dana Hingga 100 Miliar Dolar AS
OJK Jatuhkan Denda Rp3,4 Miliar dan Bekukan Izin KGI Sekuritas Terkait IPO Bermasalah
Matahari Department Store Bagikan Dividen Rp564 Miliar Meski Laba Turun