"Pemulihan Amerika masih sesuai rencana, meskipun penciptaan lapangan kerja agak mengecewakan, jadi The Fed tidak akan terburu-buru untuk menurunkan suku bunga. Tapi disinflasi berarti mereka punya ruang untuk bergerak," sambung Sklodowski.
Di sisi lain, laporan kuartalan JPMorgan justru jadi batu sandungan. Meski laba dan pendapatannya mengalahkan proyeksi analis, ada titik lemah yang langsung ditangkap pasar: kinerja divisi perbankan investasinya. Belum lagi, akuisisi program kartu kredit Apple dari Goldman Sachs membebani laporan keuangan mereka.
Bank raksasa itu mencatat penurunan laba bersih 7 persen, sebagian karena cadangan kredit USD 2,2 miliar terkait akuisisi tersebut. Kabar ini langsung menekan saham-saham bank lainnya, seperti Bank of America, Wells Fargo, dan Citigroup yang baru akan melaporkan pendapatan besok.
Namun begitu, bukan berarti semua sektor suram. Saham-saham chip malah meroket! Advanced Micro Devices (AMD) dan Intel (INTC) melesat lebih dari 7% dan 6% setelah Keybank menaikkan rating kedua emiten ini menjadi "overweight".
Ada juga Delta Air Lines. Maskapai ini melaporkan laba kuartalan yang sedikit mengalahkan ekspektasi. Tapi, rupanya pasar kurang puas karena pendapatannya meleset dan panduan untuk 2026 dinilai beragam. Sahamnya pun ikut terperosok.
Jadi, suasana di Wall Street hari Selasa itu benar-benar campur aduk. Di satu sisi, data inflasi memberi angin segar. Di sisi lain, laporan dari raksasa keuangan seperti JPMorgan mengingatkan semua orang bahwa jalan menuju pemulihan ekonomi masih berliku. Awal tahun 2026 ini, tampaknya investor harus siap dengan volatilitas yang belum akan reda.
Artikel Terkait
Dolar AS Menggila di Asia, The Fed Siap Diam Meski Ditekan Trump
IHSG Melonjak 0,66%, Sentimen Positif Warnai Perdagangan Awal Sesi
Emas Antam Tembus Rp2,6 Juta per Gram, Rekor Baru Terus Tercipta
Analis BNI Sekuritas Soroti Enam Saham Pilihan Usai Aksi Borong Asing