Proyek yang pembangunannya dimulai sejak 2019 ini bukanlah fasilitas yang berdiri sendiri. Ia terintegrasi penuh dengan ekosistem energi di sekitarnya terhubung dengan Terminal Minyak Lawe-lawe dan juga Pipa Gas Senipah-Balikpapan yang membentang sepanjang 78 kilometer.
Peningkatan kapasitas itu ditopang oleh unit Crude Distillation Unit (CDU) yang baru. Unit inilah yang memungkinkan pengolahan 360 ribu barel minyak mentah per hari, sekaligus mengukuhkan statusnya sebagai kilang terbesar.
Namun begitu, jantung dari modernisasi ini sebenarnya ada pada Fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex. Inilah elemen kunci yang mengubah segalanya. Kualitas bahan bakar yang dihasilkan naik kelas, dari standar Euro 2 langsung melompat ke Euro 5. Kandungan sulfurnya anjlok dari 2.500 ppm menjadi hanya 10 ppm.
Efeknya luas. Kilang ini tak cuma memproduksi bensin dan solar biasa. Ia juga bisa menambah pasokan LPG sekitar 336 ribu ton per tahun. Bahkan minyak residu yang sebelumnya susah diolah, kini bisa diubah menjadi produk bernilai tinggi seperti nafta dan propylene.
Secara teknis, proyek ini berhasil mendongkrak Indeks Kompleksitas Kilang dari 3,7 menjadi 8. Persentase nilai produknya pun naik signifikan, dari 75,3% menjadi 91,8%.
Lalu, apa imbasnya untuk kita? Targetnya jelas: menekan impor. Diperkirakan, impor produk BBM seperti bensin, solar, avtur, plus LPG bisa ditekan sampai Rp 68 triliun setiap tahun. Angka itu mencakup penghematan impor BBM sebanyak 8,24 juta kiloliter dan LPG 336 ribu ton per tahun.
Dan jangan lupa dampak ekonominya. Selama masa konstruksi, proyek ini disebut menyumbang Rp 514 triliun kepada PDB nasional. Ia juga menyerap sekitar 24.000 tenaga kerja, dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai 35 persen. Sebuah lompatan besar, setelah tiga dekade menunggu.
Artikel Terkait
EMAS Kirim Perdana Dore Emas ke Antam, Sinyal Kesiapan Produksi Komersial
Angka Kecelakaan Kerja Indonesia Capai 300.000 Kasus pada 2024
Pembangunan Pabrik Baru SCNP di Bogor Capai 70 Persen
IHSG Anjlok 1,44%, Saham MSKY dan JAYA Melonjak di Atas 34%