"Sejak 32 tahun lalu terakhir kita meresmikan RDMP, tepatnya pada tahun 1994 di Jawa Barat, Balongan," jelasnya.
Artinya, selama lebih dari tiga dekade, tidak ada pembangunan kilang baru yang diresmikan. Keberadaan RDMP Balikpapan ini, bagi Bahlil, punya makna strategis untuk mengurangi ketergantungan impor.
Ia pun menyampaikan komitmen tegas. "Begitu diresmikan, maka insyaallah kita tahun ini kita tidak lagi melakukan impor solar."
Rencananya, impor solar jenis CN 48 akan dihentikan mulai awal 2026. Menyusul kemudian, impor solar CN 51 di paruh kedua tahun yang sama. Langkah ini, tegas Bahlil, adalah bagian dari upaya mendorong kedaulatan energi nasional.
Proyek yang digadang sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) ini sebenarnya sudah dibangun sejak 2019. Cakupannya luas, mulai dari sistem penerimaan minyak mentah, pengolahan, hingga berbagai fasilitas penunjang untuk memastikan keandalan pasokan energi.
Peningkatan kapasitas itu ditopang oleh unit utama seperti Crude Distillation Unit (CDU). Tapi yang tak kalah penting adalah kehadiran Fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex. Nah, fasilitas inilah yang menjadi game changer.
Berkat RFCC Complex, kualitas bahan bakar yang dihasilkan naik kelas. Dari standar Euro 2 dengan kandungan sulfur 2.500 ppm, kini melompat ke standar Euro 5 yang jauh lebih bersih dengan sulfur hanya 10 ppm. Perubahannya dramatis.
Efeknya pun berantai. Kilang ini nggak cuma bisa produksi bensin dan solar lebih banyak. Produksi LPG juga bakal naik, diperkirakan mencapai 336 ribu ton per tahun. Bahkan minyak residu yang sebelumnya susah diolah, kini bisa diubah jadi produk bernilai tinggi seperti nafta dan propylene. Sebuah transformasi yang cukup mengesankan untuk kilang tertua di tanah air.
Artikel Terkait
Pasar Saham AS Terguncang: Ancaman Hukum ke The Fed Picu Awal Pekan Suram
Prabowo Santai Soal Tenggat, Fokus Genjot Eksplorasi Energi
Merdeka Battery Gelontorkan Rp44,37 Miliar untuk Gali Potensi Nikel Konawe
Prabowo Pacu 11 Proyek Hilirisasi Senilai Rp 101 Triliun