Emas Melonjak, Analis Ramalkan Sentuhan Rekor Baru di Atas USD 5.000

- Minggu, 11 Januari 2026 | 10:10 WIB
Emas Melonjak, Analis Ramalkan Sentuhan Rekor Baru di Atas USD 5.000

Harga emas dunia kembali menguat pada Jumat lalu, menutup pekan dengan catatan positif. Kenaikan ini terjadi seiring investor mencermati data ketenagakerjaan AS yang ternyata lebih lemah dari yang diperkirakan banyak orang. Di tengah semua itu, ketidakpastian kebijakan dan situasi geopolitik global tetap jadi perhatian utama.

Emas spot naik 0,72 persen, berada di level USD 4.509,66 per troy ons. Secara mingguan, logam kuning ini meroket sekitar 4,10 persen. Padahal, baru-baru ini, tepatnya 26 Desember 2025, harganya sempat menyentuh rekor tertinggi di angka USD 4.549,71.

Lantas, apa yang memicu pergerakan ini? Data nonfarm payrolls (NFP) AS untuk Desember rupanya mengecewakan. Penambahannya cuma 50.000, jauh di bawah ekspektasi pasar yang mengharapkan 60.000. Meski begitu, ada sedikit kabar baik: tingkat pengangguran turun tipis ke 4,4 persen, mengalahkan perkiraan 4,5 persen.

Menurut sejumlah analis, data payroll yang lemah ini justru jadi angin segar bagi emas.

“Data payrolls menunjukkan lingkungan penciptaan lapangan kerja yang lemah. Potensi ketegangan geopolitik yang lebih besar, harga minyak yang cenderung lebih tinggi dan bersifat inflasioner, ketidakpastian, serta sikap The Fed yang melonggar, semuanya merupakan kombinasi yang mendukung logam mulia,” ujar Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities.

Pasar juga masih berharap The Fed akan memangkas suku bunga setidaknya dua kali tahun ini. Latar belakang moneter seperti ini, secara historis, memang kerap menguntungkan bagi aset safe-haven seperti emas.

Belum lagi situasi geopolitik yang masih panas. Gejolak di Iran belum reda, perang Rusia-Ukraina terus berlanjut. Ditambah lagi dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh AS, dan isu-isu baru dari Washington soal Greenland. Semua ini menambah daftar ketidakpastian.

Melihat kondisi itu, Metals Focus memproyeksikan harga emas berpeluang menembus rekor baru di atas USD 5.000 pada 2026. Tren dedolarisasi dan risiko geopolitik disebut sebagai pendorong utamanya.

Di sisi lain, permintaan fisik tampak beragam. Di India, pembelian emas ritel masih lesu karena harganya yang terlampau tinggi. Sementara di China, premi emas justru melebar, menandakan permintaan yang cukup kuat di sana.

Sementara itu, ketidakpastian lain datang dari kebijakan perdagangan AS. Mahkamah Agung AS diperkirakan tidak akan mengeluarkan putusan pada Jumat lalu terkait tarif global era Trump. Keputusan penting itu kini ditunggu pada 14 Januari mendatang.

Perak juga ikut meroket, melonjak 3,5 persen ke USD 79,56 per ons. Kenaikan mingguannya bahkan mencapai 9,7 persen, lebih tajam dari emas.

Logam lain seperti platinum dan paladium tak ketinggalan. Platinum naik 0,8 persen ke USD 2.284,50, sementara paladium menguat 1,6 persen ke USD 1.814,93 per ons. Keduanya juga diprediksi mencatat kenaikan mingguan.

Bank of America bahkan telah menaikkan proyeksi harga rata-rata untuk platinum dan paladium di tahun 2026. Alasannya, pasar fisik yang ketat dan dislokasi akibat sengketa perdagangan, ditambah lagi dengan dukungan dari impor China yang tetap solid.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar