Di sisi lain, ada juga risiko penurunan peringkat. Ini bisa terjadi jika SOLA ternyata menambah utang lebih banyak dari perkiraan, misalnya untuk membiayai ekspansi atau modal kerja. Risiko muncul jika penambahan utang itu tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan yang memadai, yang akhirnya malah melemahkan kondisi keuangan perusahaan.
Sebagai gambaran, bisnis utama SOLA ada di bidang rekayasa, pengadaan, dan konstruksi atau EPC. Mereka banyak mengerjakan proyek-proyek jalan hauling. Tapi, lewat anak perusahaannya, SOLA juga merambah sektor lain.
Bidang industri seperti aspal modifikasi dan bahan konstruksi digarap. Mereka pun masuk ke sektor energi, dengan mengembangkan panel surya dan pembangkit listrik. Untuk mendukung operasinya, SOLA diketahui mengoperasikan empat pabrik aspal. Lokasinya tersebar di Sumatera Selatan, Demak, Tuban, dan Kalimantan Timur.
Siapa saja yang memegang sahamnya? Per akhir September 2025, kepemilikan saham SOLA didominasi oleh PT Energi Hijau Investama dengan 57,85 persen. Kemudian disusul PT Xolabit Terminal Bitumen (9,37 persen) dan PT Asha Raharja Persada (7,92 persen). Para pendiri, Mochamad Bhadaiwi dan Imam Buchairi, masing-masing memegang 3,82 persen dan 2,08 persen. Sisanya, sekitar 18,96 persen, beredar di tangan publik.
Artikel Terkait
Wall Street Dibuka Merah, Dihantui Ketegangan Iran dan Inflasi yang Membandel
RGAS Rencanakan Diversifikasi ke Bisnis Material Konstruksi pada 2026
Prabowo Ucapkan Terima Kasih kepada Putin atas Dukungan Masuknya Indonesia ke BRICS
YULE Bagikan Dividen Rp15,8 Miliar, Cair 13 Mei 2026