"Jumlah data penggajian sedikit lebih rendah dibandingkan konsensus, tetapi tetap merupakan angka yang cukup kuat,"
Tim Ghriskey, seorang senior portfolio strategist di Ingalls & Snyder, New York, memberikan komentarnya seperti itu.
Efek dari data itu langsung terasa di pasar uang. Probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed pada rapat 27-28 Januari anjlok jadi hanya 4,8 persen. Sebelumnya, peluangnya masih 11,6 persen. Kalau mau menunggu suku bunga turin, pasar memperkirakan kita harus bersabar setidaknya sampai April.
Pergerakan juga terlihat di pasar obligasi. Imbal hasil Treasury AS untuk tenor dua tahun yang sangat sensitif dengan isu suku bunga naik 5 basis poin menjadi 3,538 persen. Namun begitu, imbal hasil obligasi 10 tahun justru turun tipis ke 4,171 persen.
Bagaimana dengan dolar? Mata uang AS itu tetap menguat meski sempat kehilangan sedikit tenaga setelah rilis data. Indeks dolar akhirnya ditutup naik 0,26 persen, bertengger di level 99,13. Pekan yang cukup bergejolak, tapi berakhir dengan senyuman bagi para bull.
Artikel Terkait
EMAS Kirim Perdana Dore Emas ke Antam, Sinyal Kesiapan Produksi Komersial
Angka Kecelakaan Kerja Indonesia Capai 300.000 Kasus pada 2024
Pembangunan Pabrik Baru SCNP di Bogor Capai 70 Persen
IHSG Anjlok 1,44%, Saham MSKY dan JAYA Melonjak di Atas 34%