Wall Street menutup pekan ini dengan catatan hijau. Perdagangan Jumat (9/1) berakhir menguat, didorong oleh laporan ketenagakerjaan AS yang ternyata lebih lemah dari yang diprediksi pasar. Ya, data itu justru jadi angin segar bagi investor.
Indeks Dow Jones merangkak naik 252,84 poin, atau sekitar 0,51 persen, menuju level 49.518,95. Sementara itu, S&P 500 dan Nasdaq Composite tampil lebih perkasa lagi, masing-masing menguat 0,77 persen ke 6.974,69 dan melonjak 0,92 persen ke 23.696,40. Data ini dikutip dari Reuters pada Sabtu (10/1).
Jika dilihat per pekan, ketiga indeks utama itu bersiap mencatatkan kenaikan. Ini adalah pekan perdagangan penuh pertama di tahun 2026, dan Dow Jones sedang menuju kenaikan mingguan terbesarnya sejak akhir November lalu. Suasana hati pasar terlihat cukup optimis.
Di sisi lain, penguatan itu tak lepas dari andil saham-saham teknologi, terutama emiten chip. Saham Intel, misalnya, mendapat suntikan semangat setelah ada kabar tentang pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan CEO-nya, Lip-Bu Tan. Trump menyebut pertemuan itu sebagai "a great meeting". Sentimen hangat ini bahkan sempat mendorong S&P 500 menyentuh level tertinggi dalam sehari.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi dengan data tenaga kerja itu? Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), ekonomi AS hanya menambahkan 50.000 pekerjaan non-pertanian pada Desember. Angka ini memang masih di atas revisi bulan November, tapi jelas-jelas meleset dari ekspektasi analis yang mengharapkan 60.000 lapangan kerja baru. Tingkat pengangguran sendiri turun menjadi 4,4 persen, sesuai perkiraan.
Nah, di sinilah paradoksnya. Data yang secara teknis 'lemah' justru ditanggapi positif. Banyak pelaku pasar berpendapat, perlambatan penciptaan lapangan kerja ini memberi ruang bagi The Fed untuk tidak terburu-buru. Bank sentral AS bisa bersikap lebih hati-hati dan tidak perlu memangkas suku bunga secara agresif.
Artikel Terkait
Iran di Ambang Perubahan: Krisis Ekonomi dan Gejolak Sosial Menggerus Fondasi Republik Islam
Bulog Siapkan Satu Juta Ton Beras Premium untuk Ekspor ke Pasar ASEAN
Target Pajak 2025 Meleset, Pemerintah Diduga Pakai Jurus Super Maut
Tamagotchi Paradise Cetak Rekor, Gen Z dan Nostalgia Kidult Jadi Pendorong Utama