Kalau bicara soal pengangkutan gas alam cair di Indonesia, nama PT GTS Internasional Tbk (GTSI) pasti muncul. Emiten ini bergerak di sektor energi, fokusnya pada angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus, termasuk distribusi gas alam. Intinya, mereka spesialis di kapal pengangkut LNG.
GTSI sendiri bukanlah perusahaan yang berdiri sendiri sejak awal. Menurut laporan tahunan mereka, ceritanya berawal jauh di tahun 1986. Kala itu, PT Humpuss membangun kapal pengangkut LNG pertamanya yang diberi nama Ekaputra 1, lewat Mitsubishi Heavy Industries Ltd. Baru empat tahun kemudian, tepatnya 1990, kapal itu mulai beroperasi. Rute perdananya? Dari Bontang di Kalimantan Timur menuju ke Taiwan.
Perjalanan bisnisnya terus berlanjut. Pada 1992, PT Humpuss Intermoda Transportasi didirikan dengan fokus mengoperasikan kapal tanker dan LNG. Mereka pun tak berhenti di situ. Beberapa tahun setelahnya, pesanan kapal baru diajukan ke NKK Corp di Jepang. Kapal yang dinamai Triputra itu akhirnya beroperasi di tahun 2000, di bawah kendali anak usahanya, Humolco LNG Indonesia.
Namun begitu, baru di tahun 2012 divisi pengangkutan LNG ini benar-benar mandiri. Mereka berdiri sendiri menjadi PT GTS Internasional Tbk. Sejak itulah, GTSI menjalankan bisnisnya secara independen, tak hanya mengangkut LNG tapi juga mengelola FSRU atau floating storage regasification unit.
Layanan mereka kini cukup beragam. Selain angkutan, mereka juga menyediakan jasa penyimpanan dan regasifikasi LNG lewat unit FSRU, plus manajemen kapal. Operasionalnya tersebar di beberapa titik strategis: Jakarta, Aceh, Lampung, Patimban, Bontang, Benoa, dan Bintuni. Untuk mendukung semua itu, perseroan didukung oleh beberapa anak perusahaan dan satu entitas asosiasi.
Lalu, siapa sebenarnya yang memegang kendali saham perusahaan ini?
Data dari Bursa Efek Indonesia per 30 November 2025 cukup jelas. Pengendali utama saham GTSI adalah PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI) selaku induk perusahaan.
HUMI memegang saham yang sangat dominan, sekitar 13,41 miliar lembar. Angka itu setara dengan 84,8 persen dari total saham yang beredar. Sisa kepemilikannya, sekitar 15,17 persen atau 2,40 miliar saham, dipegang oleh publik.
Adapun penerima manfaat akhir, atau pemilik sebenarnya dari kepemilikan saham GTSI ini, adalah Hutomo Mandala Putra.
Di pasar modal, kinerja saham GTSI terbilang fenomenal dalam setahun terakhir. Pada perdagangan Selasa, 6 Januari 2026, sahamnya dibuka dan sempat turun 2,5 persen ke level Rp390 per saham. Meski turun, saham ini masuk dalam jajaran top value dengan nilai transaksi mencapai Rp282 miliar.
Yang lebih mencengangkan adalah pertumbuhan harganya. Dalam setahun, saham GTSI melesat tinggi, mencatatkan kenaikan fantastis sebesar 786,36 persen. Bayangkan, di awal Januari tahun sebelumnya, harganya masih berkutat di bawah Rp50 per lembar. Perubahan yang sangat drastis, bukan?
Itulah sekelumit profil dan kepemilikan saham GTSI, emiten yang bisnisnya mengalir layaknya gas alam yang mereka angkut.
Artikel Terkait
PSKT akan Gelar RUPST 19 Juni 2026, Usul Perombakan Direksi dan Komisaris
Harga Emas Antam Naik Rp11.000 per Gram, Buyback Tembus Rp2.583.000
IHSG Diprediksi Rebound Hari Ini Usai Ambles 1,7 Persen, Enam Saham Direkomendasikan
IHSG Anjlok 32,46 Persen Sepanjang 2026, Phintraco Soroti Tekanan Suku Bunga AS dan Pelemahan Rupiah