Harga emas dunia kembali meroket. Pada Senin (5/1/2026) ini, logam kuning itu mencatat level tertingginya dalam sepekan terakhir. Pemicunya? Tak lain adalah serangan Amerika Serikat ke Venezuela, yang langsung membuat investor berduyun-duyun mencari aset aman.
Emas spot melesat 2,7 persen, mencapai USD 4.444,52 per troy ons. Angka ini adalah yang tertinggi sejak akhir Desember lalu. Padahal, baru-baru ini, tepatnya 26 Desember, emas sempat mencetak rekor fantastis di USD 4.549,71.
Menurut Alexander Zumpfe, seorang trader di Heraeus Metals Germany, situasi di Venezuela jelas memicu gelombang permintaan baru.
"Ini memperkuat sentimen safe haven yang memang sudah ada," ujarnya.
Zumpfe menambahkan, ketegangan geopolitik itu datang berbarengan dengan kekhawatiran lama soal pasokan energi dan arah kebijakan bank sentral. Gabungan faktor-faktor itulah yang mendorong pasar.
Kalau melihat ke belakang, kinerja emas sepanjang tahun lalu memang luar biasa: naik 64 persen! Gejolak geopolitik di berbagai belahan dunia dan sinyal pelonggaran suku bunga The Fed jadi pendorong utamanya. Ekspektasi bunga rendah, ditambah pembelian gencar oleh bank sentral dan dana ETF, memberikan angin segar berkelanjutan.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di Venezuela? Melansir Reuters, AS melancarkan serangan dan berhasil menggulingkan Presiden Nicolas Maduro pada Sabtu. Aksi ini disebut-sebut sebagai intervensi paling langsung Washington di Amerika Latin sejak era invasi Panama tahun 1989.
Artikel Terkait
MNC Life dan BPD DIY Perkuat Proteksi Nasabah dengan Asuransi Jiwa Kredit Personal Loan
Prestasi Bersejarah di SEA Games 2025, Bonus Atlet Emas Tembus Rp1 Miliar
Menkeu Purbaya: Demutualisasi BEI Bukti Kepercayaan Investor, IHSG 10.000 Bukan Mimpi
Analis HSBC Proyeksikan Emas Tembus USD 5.000 pada Awal 2026