Kalau kita perhatikan pergerakan pasar saham Indonesia sepanjang 2025, ada satu fenomena yang sulit diabaikan: bangkitnya kembali investor ritel. Menurut analis JPMorgan, kebangkitan inilah yang jadi salah satu faktor kunci pembentuk pasar. Riset terbaru mereka, terbit awal Desember 2025, mencatat peran investor ritel sudah menguat ke level tertinggi sejak masa pandemi Covid-19 dulu.
Apa yang mendorongnya? Spekulasi terkait indeks dan minat yang besar pada saham-saham berkapitalisasi besar, tapi dengan free float yang terbatas. Intinya, pasar kembali diramaikan oleh pemain-pemain ritel.
“Inti dari tren ini adalah kembalinya investor ritel sebagai pemain utama di pasar, sebuah fenomena yang terakhir kali terlihat pada masa pandemi Covid-19,”
begitu penjelasan analis JPMorgan.
Fakta di lapangan pun mendukung. IHSG tercatat mengungguli kinerja indeks MSCI Indonesia dan LQ45. Kenaikan ini terutama ditopang oleh lonjakan harga saham konglomerat dan saham-saham terkait indeks. Semua itu terjadi di tengah desas-desus dan ekspektasi bakal masuknya beberapa emiten tertentu ke dalam indeks MSCI.
Di balik semua itu, dominasi investor ritel memang semakin nyata. Ambil contoh bulan Oktober 2025. Partisipasi mereka mencapai 58 persen dari rata-rata nilai transaksi harian. Angka itu adalah yang tertinggi sejak 2021. Bahkan, nilai transaksi ritelnya sendiri memecahkan rekor: Rp14,5 triliun, sedikit mengalahkan rekor lama di Rp14,4 triliun yang tercatat pada Januari 2021.
Artikel Terkait
Harga Tembaga dan Emas Melonjak, Pemerintah Tetapkan Patokan Baru Awal 2026
Suriah Resmi Ganti Mata Uang, Gambar Tokoh Politik Hilang dari Desain Baru
Danantera Diproyeksikan Jadi Motor Pasar Saham 2026, IHSG Bisa Tembus 9.200
KRL Jabodetabek Angkut 885 Ribu Penumpang di Hari Terakhir Tahun