Tahun 2025 di pasar modal Indonesia punya cerita yang jelas: uang tunai mengalir deras dari sektor perbankan. Tak tanggung-tanggung, nilai dividen yang dibagikan oleh industri finansial ini menembus angka Rp 80,3 triliun. Jumlah itu, tentu saja, menempatkan mereka di puncak sebagai penyumbang dividen terbesar.
Hal ini diungkapkan langsung oleh Samsul Hidayat, Direktur Utama KSEI, dalam sebuah konferensi pers penutupan perdagangan di BEI, Jakarta, akhir tahun lalu. Ia menekankan bahwa angka-angka yang disebutkannya adalah realisasi, bukan sekadar proyeksi atau angan-angan.
"Untuk distribusi dividen terbesar, sektor mana sih yang memberikan dividen terbesar selama tahun 2025? Sektor yang paling tinggi adalah sektor financial atau perbankan. Ini untuk data 2025 ya, bukan nanti ada yang manipulasi 2026 ini data yang sudah terjadi,"
"Bahwa dalam 2025 sektor financial atau perbankan itu mendistribusikan dividen sebanyak Rp 80,3 triliun,"
Jarak pencapaian sektor perbankan dengan pesaing di bawahnya terbilang cukup jauh. Posisi runner-up diisi oleh sektor energi, yang menyumbang Rp 27 triliun. Kontribusi utama, menurut Samsul, datang dari subsektor batu bara.
"Kemudian sektor energi, di bawahnya ada sektor energi, coal production itu Rp 27 triliun,"
Di sisi lain, sektor infrastruktur dan industri juga tak mau ketinggalan. Mereka turut memberi warna dalam pesta dividen tahun itu. Infrastruktur layanan telekomunikasi terintegrasi, misalnya, membukukan pembagian dividen senilai Rp 20 triliun.
"Infrastructure integrated telecommunication service itu Rp 20 triliun,"
Selanjutnya, ada holding multi sektor industri yang mendistribusikan Rp 10,4 triliun. Angka yang hampir setara, yakni Rp 10 triliun, datang dari infrastruktur layanan telekomunikasi nirkabel.
"Industrial multi sector holding itu Rp 10,4 triliun. Kemudian infrastructure wireless telecommunication service itu Rp 10 triliun,"
Pembicaraan tak hanya berhenti di dividen saham. Samsul juga membeberkan sektor-sektor dengan distribusi terbesar untuk instrumen utang dan sukuk sepanjang 2025. Menurut penjelasannya, sektor pembiayaan konsumen lah yang memimpin di kategori ini.
"Kemudian untuk efek bersifat utang atau sukuk, dengan distribusi tindakan terbesar selama tahun 2025 adalah tetap sektor consumer financing, kemudian financial bank, financial specialized business financing, basic material paper, dan infrastructure wireless telecommunication services,"
Jadi, gambaran untuk tahun 2025 cukup terang. Sektor keuangan, dengan perbankan sebagai lokomotifnya, masih menjadi mesin pencetak dividen yang paling andal. Diikuti oleh energi dan infrastruktur yang juga menunjukkan kontribusi yang tak bisa dipandang sebelah mata.
Artikel Terkait
Industri Kripto Indonesia Genjot Literasi untuk Tekan Investasi Ikut-ikutan
Kemkomdigi Awasi Sidang Gugatan Rp3,3 Triliun Bali Towerindo ke Pemkab Badung
Harga CPO Catat Pelemahan Mingguan Kedua, Didorong Ekspor Malaysia Turun dan Kekhawatiran China
Saham BUMI Kuasai Pasar dengan Volume 50 Miliar Saham, Kontribusi ke IHSG Capai 17 Poin