Namun begitu, tak sedikit warganet yang sinis. Mereka menilai Bobibos cuma cari investor. Mulyadi menampik anggapan itu. Menurutnya, industri energi memang butuh investasi besar dan peran negara agar distribusinya bisa adil dan berkelanjutan.
Sementara itu, di dalam negeri, Bobibos tetap jalan. Mereka menjalankan proyek percontohan berbasis komunitas dan relawan. Produksinya terbatas, hanya untuk konsumsi internal sebagai pembuktian teknologi. Jadi, belum untuk dijual bebas.
Mulyadi juga meluruskan satu hal. Teknologi Bobibos, katanya, tidak sama dengan konsep “blue energy” yang sempat ramai dibicarakan. Seluruh prosesnya bisa diuji secara ilmiah. Dia pun tak mau reputasi pribadi atau simbol negara mengingat posisinya sebagai pejabat dan pengurus partai dipertaruhkan.
Meski begitu, Bobibos mengaku akan tetap patuh pada aturan yang berlaku di Indonesia. Saat ini, pemerintah baru menetapkan sawit, aren, dan tebu sebagai sumber bioenergi. Mereka akan menunggu regulasi yang memungkinkan pemanfaatan jerami sebagai bahan baku energi terbarukan. Jadi, langkah mereka ke Timor Leste bukan berarti meninggalkan tanah air, tapi lebih pada mencari peluang sambil tetap menghormati kebijakan domestik.
Artikel Terkait
PT Adhi Kartiko Pratama Siap Bayar Denda Hutan Rp158,9 Miliar
BUMA Catat Rugi Bersih USD 116 Juta di Tengah Gangguan Operasional dan Cuaca Buruk
Wall Street Catat Kerugian Pekan Kelima Berturut-turut, Dipicu Ketegangan AS-Iran dan Harga Minyak Melonjak
Wall Street Bersiap Hadapi Pekan Berat, Data Ketenagakerjaan Jadi Penentu Arah Pasar