Menjelang 2026, pasar saham tampaknya akan digerakkan oleh hal-hal yang lebih spesifik dan riil. Bukan lagi sekadar proyeksi makroekonomi yang luas, melainkan serangkaian sentimen yang lebih konkret. Demikianlah pandangan para analis Morgan Stanley, yang melihat teknologi, perdagangan global, hingga kebiasaan belanja konsumen sebagai penggerak utama nanti.
Sentimen utamanya tentu saja kecerdasan buatan. Tapi, narasinya sudah bergeser. Saat ini, investasi di AI memang sudah masif. Namun, fase selanjutnya adalah soal difusi. Intinya, industri mana sih yang benar-benar bisa meraup keuntungan signifikan dari teknologi ini, dan mana yang cuma jadi penyerap biaya tambahan saja.
Di sisi lain, ada perdebatan seru seputar pembangunan infrastruktur pendukungnya, seperti pusat data. Investor mulai mempertanyakan: apakah lonjakan pengeluaran besar-besaran ini akan memberikan imbal hasil yang bertahan lama? Atau justru terkendala oleh masalah pasokan listrik, tekanan harga, dan permintaan yang fluktuatif? Menariknya, para analis mencatat bahwa akses terhadap energi dan lokasi geografis bisa jadi faktor penentu yang tak kalah penting dari kecanggihan teknologi itu sendiri.
Beberapa sektor diprediksi akan mengalami transformasi material berkat AI. Ambil contoh transportasi, ritel, media, dan tentu saja perawatan kesehatan. Hanya saja, siapa pemenang sebenarnya di masing-masing sektor itu mungkin akan mengejutkan banyak orang berbeda dari ekspektasi pasar yang beredar hari ini.
Lalu, ada isu perdagangan global yang semakin kompleks.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Stagnan, Harga Buyback Turun Rp80.000 per Gram
Harga Jual Emas Antam Stagnan, Harga Buyback Anjlok Rp80.000
Analis: Koreksi IHSG Belum Masuk Kategori Krisis Sistemik
Harga Minyak Jatuh 11% Usai Trump Tunda Serangan ke Iran