Harga minyak sawit mentah atau CPO kembali melemah pada Jumat kemarin. Penurunan ini menghentikan tren penguatan yang terjadi selama dua hari sebelumnya. Pelemahannya cukup signifikan, nyaris mencapai 2 persen tepatnya.
Di pasar Malaysia, harganya terpantau turun 1,83 persen ke level 3.906 ringgit per ton. Ini adalah posisi terendah yang dicatat sejak bulan Juni lalu. Kalau dilihat dari pergerakan pekan ini, penurunan mingguan bahkan mencapai 2,91 persen. Artinya, ini sudah pekan kedua berturut-turut harga CPO berada di zona merah.
Lantas, apa pemicunya? Menurut sejumlah pelaku pasar, ada beberapa faktor yang berperan. Penguatan nilai ringgit Malaysia terhadap dolar AS membuat komoditas ini jadi kurang menarik bagi pembeli internasional. Selain itu, harga minyak nabati pesaing di bursa Dalian dan Chicago juga ikut melemah, sehingga menekan sentimen secara keseluruhan.
Seorang trader di Kuala Lumpur yang diwawancarai Reuters menyebutkan hal serupa.
"Tekanan utama memang datang dari pelemahan di pasar minyak nabati lainnya. Itu yang mendorong aksi jual," katanya.
Kekhawatiran terhadap permintaan ekspor pun semakin menjadi. Data survei kargo menunjukkan, pengapalan minyak sawit Malaysia pada paruh pertama Desember ini anjlok. Angkanya turun sekitar 15-16 persen dibanding periode sebelumnya. Data resmi untuk November juga tak menggembirakan: ekspor tahunan turun 9,3 persen, berbalik dari lonjakan fantastis di bulan Oktober.
Namun begitu, bukan berarti tidak ada angin segar sama sekali. Pemerintah Malaysia rupanya mengambil langkah antisipatif. Mereka menurunkan harga referensi CPO untuk Januari 2026 mendatang dan memotong bea ekspornya menjadi 9,5 persen. Langkah ini diharapkan bisa mendongkrak kembali minat pembeli global dalam beberapa bulan ke depan.
Di sisi lain, ada sedikit kabar baik dari India. Sebagai importir terbesar dunia, negara itu justru mencatatkan peningkatan impor minyak sawit sekitar 5 persen pada November. Harga yang lebih murah rupanya memicu pembelian. Sementara di Indonesia, stok pada akhir Oktober dilaporkan menyusut 10 persen meski produksi naik.
Perkembangan lain datang dari Eropa. Uni Eropa sepakat menunda penerapan aturan anti-deforestasi selama satu tahun penuh. Keputusan ini diambil setelah muncul protes dari industri dan kekhawatiran bahwa sistem pelacakan digital yang dibutuhkan belum benar-benar siap. Penundaan ini mungkin bisa memberi sedikit ruang bernapas bagi eksportir.
Jadi, pasar CPO saat ini memang sedang dihimpit berbagai sentimen. Ada tekanan, tapi juga ada harapan. Pergerakan harga ke depan kemungkinan besar akan tetap dinamis, bergantung pada data ekspor dan kebijakan dari negara-negara kunci.
Artikel Terkait
OJK Beri Tenggat 2029, Emiten Wajib Genjot Free Float ke 15 Persen
Guncang Pasar, Kuota Batu Bara 2026 Dipangkas Hingga 70 Persen
Pakaian Bekas Ilegal Disita Rp 248 M, Pemerintah Genjarkan Razia di Pelabuhan
Investor Global Berebut Proyek PLTN 7 Gigawatt di Indonesia