Pasar saham kita diprediksi bakal melanjutkan sentimen negatifnya hari ini, Jumat (19/12). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin sudah anjlok 59 poin lebih, dan analis melihat potensi pelemahan berlanjut ke kisaran 8.550 sampai 8.600.
Secara teknikal, sinyalnya memang kurang bagus. Dari catatan Phintraco Sekuritas, histogram MACD melebar ke area negatif. Stochastic RSI juga menunjukkan pola death cross dan nyaris oversold. Meski masih bertahan di atas MA20, penutupan di bawah MA5 kemarin cukup mengkhawatirkan.
“Dengan kondisi itu, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan dan menguji level support di 8.550-8.600,”
tulis analis Phintraco dalam risetnya.
Di sisi lain, ada satu faktor eksternal yang bikin investor waspada: hasil pertemuan Bank of Japan. Banyak yang memperkirakan bank sentral Jepang akan menaikkan suku bunga acuan. Kalau benar naik 25 bps, itu jadi level tertinggi dalam tiga dekade terakhir.
“Jika perkiraan ini benar terjadi, ada potensi akan meningkatkan volatilitas saham dan mata uang di pasar global,”
lanjut analis tersebut.
Alasannya berkaitan dengan strategi carry trade. Selama ini, banyak investor yang meminjam dana murah dalam Yen Jepang (karena bunganya rendah) untuk kemudian diinvestasikan di instrumen dengan imbal hasil lebih tinggi di negara lain.
“Kenaikan suku bunga Jepang berpotensi membuat investor yang melakukan carry trade tersebut menutup posisi pinjamannya sehingga akan meningkatkan volatilitas pasar global karena arus dana kembali ke Jepang. Namun diperkirakan dampak tersebut hanya jangka pendek,”
ujarnya.
Nah, dalam situasi seperti ini, Phintraco punya beberapa rekomendasi saham untuk hari ini: BMRI, BBCA, ULTJ, MYOR, dan ERAL.
Bukan cuma Phintraco, MNC Sekuritas juga punya pandangan serupa. Mereka memprediksi IHSG bakal bergerak di rentang 8.464 hingga 8.560. Tapi analis mereka juga memberi peringatan.
“Namun, worst case (merah), IHSG sudah menyelesaikan wave (1) dan akan terkoreksi cukup dalam ke area 8.000-an,”
tulis analis MNC Sekuritas.
Untuk portofolio hari ini, MNC Sekuritas merekomendasikan saham-saham seperti BKSL, BMRI, KLBF, dan PYFA.
Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan dan keputusan pembaca. Berita ini bukan merupakan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual suatu produk investasi tertentu.
Artikel Terkait
Airlangga Hartarto: Ekonomi Indonesia Tetap Solid di Tengah Gejolak Global, IMF Sebut sebagai Bright Spot
Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal I-2026 Tembus 5,61 Persen, Tertinggi dalam Setahun Terakhir
Saham Nikel Tertekan, Pasar Cermati Rencana Pemerintah Terapkan Bea Keluar dan Windfall Tax
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.401 per Dolar AS, Tertekan Faktor Domestik