Kesal dengan Penjelasan BMKG, Lasarus Soroti Analisis Kecelakaan Pangkep
Rapat kerja di Senayan, Selasa (20/1), memanas. Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Dia mendengar penjelasan BMKG soal cuaca dan jarak pandang saat kecelakaan pesawat ATR di Pangkep, Sulsel. Menurutnya, penjelasan itu terlalu normatif. Bahkan, terkesan menggiring opini bahwa pilot seolah tak punya pilihan lain selain menabrak gunung.
Rapat yang dihadiri perwakilan Kemenhub, KemenPU, Basarnas, dan BMKG itu pun jadi tegang. Lasarus awalnya mempertanyakan maksud dari data jarak pandang yang dipaparkan. Baginya, detail semacam ini krusial.
"Kalau bicara jarak pandang, jarak pandang itu kan dari arah pendaratan, Pak," ujar Lasarus.
"Apakah ini jarak pandang dari arah pendaratan atau jarak pandang tidak dari arah pendaratan? Ini mesti diperjelas dulu."
Memang, dia mengakui pihaknya tidak masuk ke urusan teknis penerbangan yang terlalu dalam. Namun begitu, ada satu hal yang jelas: kondisi cuaca sangat menentukan keputusan pilot di kokpit. Itu fakta yang tak terbantahkan.
"Keadaan cuaca ini menentukan," tegasnya.
"Konon katanya pilihannya sulit. Kalau tidak belok ke arah situ, tapi masuk ke CB (awan cumulonimbus), pilih mana? CB sama gunung? Milih CB-lah daripada milih gunung. Kalau milih CB masih ada peluang, Pak, meski kecil. Kalau milih gunung, nggak ada peluang."
Karena itulah, Lasarus mendesak agar persoalan ini dicermati lebih mendalam oleh KNKT. Penjelasan yang normatif, menurutnya, berbahaya. Bisa menciptakan kesan seolah musibah seperti ini adalah hal yang wajar terjadi, sesuatu yang tak terelakkan.
"Jadi saya tidak ingin setiap kejadian itu kita normatif terus, Pak," ujarnya, kali ini menyasar Dirjen Udara.
"Normatif aja terus kita semua ini. Seolah-olah wajar terjadi gitulah. Ini sebabnya yang harus betul-betul kita urai."
Di sisi lain, Lasarus juga menyoroti perlengkapan pesawat. Menurut pengetahuannya, pesawat modern biasanya dilengkapi alat yang bisa membedakan visual gunung dan awan di depannya.
"Apakah di pesawat ini tidak punya alat untuk bisa melihat: ini gunung, ini bukan?" tanyanya.
"Setahu saya, antara visual dan tidak visual, alat itu sudah ada di pesawat. Sehingga dia tahu ini obstacle-nya gunung, ini obstacle-nya awan. Itu di pesawat alatnya sudah lengkap, Pak."
Pertanyaan-pertanyaan itu kini menggantung. Menunggu jawaban yang tak sekadar normatif, tapi benar-benar mengurai duduk perkara sebenarnya di balik tragedi Pangkep.
Artikel Terkait
Pemerintah dan BUMN Sepakati Pengembangan Dryport di KEK Batang untuk Efisiensi Logistik
Program Makan Bergizi Dongkrak Harga Jual dan Semangat Petani Boyolali
Trump Tunda Serangan ke Iran Atas Permintaan Pakistan
Jadwal Salat DKI Jakarta Hari Ini, 22 April 2026