Karena itulah, Lasarus mendesak agar persoalan ini dicermati lebih mendalam oleh KNKT. Penjelasan yang normatif, menurutnya, berbahaya. Bisa menciptakan kesan seolah musibah seperti ini adalah hal yang wajar terjadi, sesuatu yang tak terelakkan.
"Jadi saya tidak ingin setiap kejadian itu kita normatif terus, Pak," ujarnya, kali ini menyasar Dirjen Udara.
"Normatif aja terus kita semua ini. Seolah-olah wajar terjadi gitulah. Ini sebabnya yang harus betul-betul kita urai."
Di sisi lain, Lasarus juga menyoroti perlengkapan pesawat. Menurut pengetahuannya, pesawat modern biasanya dilengkapi alat yang bisa membedakan visual gunung dan awan di depannya.
"Apakah di pesawat ini tidak punya alat untuk bisa melihat: ini gunung, ini bukan?" tanyanya.
"Setahu saya, antara visual dan tidak visual, alat itu sudah ada di pesawat. Sehingga dia tahu ini obstacle-nya gunung, ini obstacle-nya awan. Itu di pesawat alatnya sudah lengkap, Pak."
Pertanyaan-pertanyaan itu kini menggantung. Menunggu jawaban yang tak sekadar normatif, tapi benar-benar mengurai duduk perkara sebenarnya di balik tragedi Pangkep.
Artikel Terkait
Kapolri Resmikan 57 Jembatan Merah Putih Presisi di Sumsel, Permudah Akses Warga
AS Setujui Penjualan Darurat 12.000 Bom ke Israel Senilai Rp2,4 Triliun
Kapolri Pimpin Penanaman Jagung Serentak untuk Dukung Program Pangan Prabowo
Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno Peringatkan Indonesia Akan Berebut Pasokan Migas dengan China dan India