Emas Melonjak Usai The Fed Turunkan Suku Bunga, Analis Ramal Kenaikan Berlanjut

- Senin, 15 Desember 2025 | 07:15 WIB
Emas Melonjak Usai The Fed Turunkan Suku Bunga, Analis Ramal Kenaikan Berlanjut

Harga emas dunia merangkak naik lagi pekan lalu. Ini terjadi setelah Federal Reserve, atau The Fed, akhirnya memangkas suku bunga sebesar seperempat poin langkah yang memang sudah lama dinanti pasar. Nah, investor kini mulai berharap lebih: mereka mengincar sinyal pelonggaran kebijakan yang lebih lanjut di tahun depan.

Pada penutupan perdagangan Jumat (12/12/2025), emas spot menguat 0,47 persen ke level USD4.299,38 per troy ons. Logam kuning ini sempat menyentuh posisi tertinggi sejak akhir Oktober. Secara keseluruhan, kenaikan mingguannya cukup solid, di angka 2,40 persen.

Namun begitu, ceritanya agak berbeda untuk perak. Logam putih ini justru melemah hampir 3 persen di hari yang sama, meski sempat mencetak rekor baru di awal sesi. Aksi ambil untung besar-besaran tampaknya jadi penyebabnya. Perak spot akhirnya turun sekitar 2,60 persen, berada di USD61,92 per ons setelah sebelumnya mencatat puncak di USD64,66.

Lalu, bagaimana prospek ke depannya?

Survei Emas Mingguan dari Kitco News memberikan gambaran menarik. Para analis Wall Street hampir kompak melihat prospek cerah untuk emas dalam jangka pendek. Sementara itu, investor ritel atau Main Street juga menunjukkan sentimen bullish yang sedikit menguat.

“Naik,” tegas Adrian Day, Presiden Adrian Day Asset Management, dengan singkat.

Ia lalu menambahkan, “Federal Reserve mulai lagi membeli surat utang pemerintah AS dalam skala besar jangan bilang ini QE ya! itu jelas hal positif buat emas.”

Pendapat senada datang dari James Stanley, seorang senior market strategist di Forex.com.

“Emas sedang berusaha menembus pola bull pennant lagi. Resistensi terakhir tinggal rekor tertinggi sejarahnya dulu. Jadi, buat apa bersikap bearish sekarang?” ujarnya.

James melanjutkan, “Saya rasa posisi emas cukup kuat untuk terus naik hingga 2026. Saya tetap bullish, kecuali nanti ada bukti bahwa inflasi benar-benar melambat dan membuat The Fed berhenti bergerak.”

Di sisi lain, Daniel Pavilonis, senior commodities broker di RJO Futures, mencermati ketangguhan relatif logam mulia ini, terutama setelah koreksi yang terjadi Jumat lalu.

Dari 13 analis Wall Street yang ikut survei, sentimennya sangat optimis. Sebanyak 11 orang atau 85 persen memperkirakan harga emas akan terus naik pekan ini. Yang menarik, tidak satu pun yang memprediksi penurunan. Dua analis sisanya, sekitar 15 persen, memperkirakan harga akan bergerak sideways atau mendatar.

Sementara dari sisi pasar ritel, jajak pendapat online Kitco yang diikuti 237 suara menunjukkan sentimen bullish yang kembali menguat. Mayoritas, tepatnya 168 trader atau 71 persen, yakin harga emas akan naik. Sebanyak 27 responden (11 persen) justru memprediksi pelemahan, dan 42 investor lainnya (18 persen) memperkirakan harga akan konsolidasi.

Pekan ini, kalender ekonomi tampaknya akan cukup sibuk. Pasar masih akan disibukkan oleh lanjutan keputusan suku bunga dari berbagai bank sentral, plus rilis sejumlah data ekonomi AS yang sebelumnya tertunda.

Hari Senin diawali dengan Empire State Manufacturing Survey. Lalu, Selasa pagi akan jadi hari yang padat: laporan Nonfarm Payrolls (NFP) AS untuk Oktober dan November, data Penjualan Ritel November, serta Flash PMI AS untuk Desember akan dirilis beruntun.

Kamis, perhatian beralih ke Bank of England dan Bank Sentral Eropa (ECB) yang akan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya. Data CPI AS untuk November, klaim pengangguran mingguan, dan survei manufaktur Philly Fed juga akan turut meramaikan.

Pekan ini kemudian ditutup pada Jumat pagi dengan rilis data Penjualan Rumah Existing AS untuk November. Semua data ini tentu akan jadi bahan pertimbangan segar bagi para pelaku pasar.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler