Suasana hati pasar memang sedang tidak cerah. Kekhawatiran utama datang dari membengkaknya stok sawit di Malaysia, sementara permintaan ekspor masih terlihat lesu. Untuk kontrak Februari mendatang, Kenanga memperkirakan pergerakan harga akan berkutat di sekitar level support 4.000 ringgit per ton, dengan resistance di 4.110 ringgit.
Kewaspadaan investor makin menjadi setelah data survei kargo keluar. Ternyata, pengiriman pada periode 1-10 Desember anjlok 10,3 hingga 15 persen dibandingkan dengan sepuluh hari pertama November. Kabar buruk lainnya datang dari data stok akhir November yang melonjak 13 persen menjadi 2,84 juta ton. Angka itu adalah yang tertinggi dalam enam setengah tahun terakhir!
Kenaikan stok yang signifikan ini nggak datang tiba-tiba. Ini mencerminkan produksi sepanjang tahun yang sangat kuat, yang bahkan diperkirakan bakal tembus 20 juta ton untuk pertama kalinya. Faktor pendorongnya beragam, mulai dari ketersediaan tenaga kerja yang membaik, efisiensi panen, sampai kontribusi dari perkebunan-perkebunan yang baru masuk masa produktif.
Meski begitu, ceritanya nggak sepenuhnya suram. Penurunan harga sempat tertahan juga, lho. Pasalnya, data regulator menunjukkan produksi pada November lalu turun 5,3 persen menjadi 1,94 juta ton. Di tengah berita itu, ada harapan bahwa permintaan akan menguat secara musiman menyambut perayaan Tahun Baru Imlek dan Ramadan yang akan datang. Jadi, pasar masih menyisakan sedikit ruang untuk optimisme.
Artikel Terkait
BEI Perpanjang Penundaan Transaksi Short Selling hingga September 2026
Wall Street Menguat di Tengah Harapan Pembukaan Kembali Selat Hormuz
Program Mudik Gratis Pemerintah Berangkatkan 500 Pemudik dari Jakarta
BEI Tetapkan Libur Perdagangan 5 Hari Berturut-turut Maret 2026 untuk Nyepi dan Idulfitri