Di sisi lain, Mars Ega Legowo Putra menekankan soal kolaborasi. Menurutnya, pengiriman via helikopter ini murni hasil gotong royong yang solid.
Operasinya sendiri digambarkan cukup dinamis. Helikopter Sikorsky S-61A lepas landas dari Bandara Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh. Satu jam kemudian, heli sudah sampai di Bandara Malikussaleh. Tanpa mendarat, ia langsung mengangkat paket pertama dan terbang menuju Bandara Rembele di Bener Meriah. Begitu paket pertama sampai, heli balik lagi ke Malikussaleh untuk mengambil paket kedua, lalu ketiga. Semua dilakukan beruntun, tanpa jeda lama. Setiap menit memang berharga.
Roberth, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, membeberkan detail teknisnya. Total 72 tabung itu dibagi dalam tiga paket, masing-masing 24 tabung. Tabung disusun tegak dengan valve menghadap atas, di atas palet yang dilengkapi jaring kargo agar stabil.
Sebenarnya, sejak 3 Desember, Pertamina sudah menggunakan pesawat perintis dan Hercules untuk kirim BBM dan LPG. Tapi pakai helikopter dengan cara digantung begini? Baru kali ini. Situasi mendesak memaksa mereka berinovasi.
Intinya, di tengah keterputusan akses, mereka mencoba segala cara. Agar kompor di dapur umum tetap menyala, agar makanan tetap hangat, dan agar bantuan pokok itu benar-benar sampai ke tangan yang membutuhkan.
Artikel Terkait
Wall Street Ditutup Menguat Meski Kenaikan Harga Minyak dan Ketegangan Timur Tengah Tekan Sentimen
Serangan ke Pelabuhan Fujairah Picu Lonjakan Harga Minyak dan Ancaman Disrupsi Pasokan Global
Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Bahan Baku, Produsen Kemasan EPAC Naikkan Harga Jual
BEI Perpanjang Penundaan Transaksi Short Selling hingga September 2026