Waskita Beton Pacu Pendapatan ke Rp2,1 Triliun di Tengah Upaya Restrukturisasi

- Rabu, 10 Desember 2025 | 21:15 WIB
Waskita Beton Pacu Pendapatan ke Rp2,1 Triliun di Tengah Upaya Restrukturisasi

PT Waskita Beton Precast (WSBP) punya target ambisius. Mereka membidik pendapatan hingga Rp2,1 triliun di tahun 2026. Angka itu bukan main-main, dan untuk mencapainya, sejumlah strategi sudah disiapkan di meja.

Fathul Anwar, Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Legal WSBP, mengungkapkan bahwa proyeksi ini merupakan bagian dari upaya besar mereka. Fokusnya adalah menyelesaikan restrukturisasi dan, yang tak kalah penting, memperkuat fundamental keuangan perusahaan.

"Target kami tahun depan, pendapatan bisa naik ke level Rp2,1 triliun," jelas Anwar dalam sebuah paparan publik di Jakarta, Rabu (10/12/2025).

"Meski begitu, posisi bottom line dan ekuitas kami perkirakan masih akan negatif di 2026."

Pernyataan itu disampaikan dengan latar belakang kinerja yang tercatat hingga akhir September 2025. Pada periode itu, WSBP membukukan pendapatan Rp1,16 triliun. Sayangnya, angka ini justru lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, ada sedikit angin segar. Kerugian bersih perseroan berhasil ditekan menjadi Rp324,21 miliar, menunjukkan perbaikan dibanding tahun sebelumnya.

Lalu, bagaimana cara mengejar target yang hampir dua kali lipat itu? Strategi utamanya adalah dengan lebih agresif memenangkan tender. Perusahaan ini akan memburu proyek-proyek dari pemerintah, BUMN, hingga sektor swasta. Caranya ya dengan ikut serta dalam lelang-lelang yang digelar tahun depan.

Namun, mengejar pendapatan saja tidak cukup. Fandy Dewanto, Kepala Divisi Corporate Secretary WSBP, menuturkan bahwa efisiensi operasional menjadi kunci lain. Mereka akan menjalankan program rasionalisasi dan digitalisasi. Soal keuangan, pengelolaan piutang serta utang usaha akan dioptimalkan untuk menjaga likuiditas tetap sehat.

Aset-aset yang menganggur pun tak luput dari perhatian.

"Kami juga masih terus mengoptimalkan aset-aset, baik aset non produktif maupun aset idle untuk menjadi penghasil pendapatan yang baru," kata Fandy.

Program divestasi aset nonproduktif juga akan terus dilanjutkan.

Sebagai modal berjalan, WSBP saat ini mengelola Nilai Kontrak Dikelola (NKD) sebesar Rp2,12 triliun. Nilai ini tersebar di berbagai proyek strategis di penjuru negeri. Beberapa yang sedang dikerjakan antara lain Jalan Tol Palembang–Betung dan Tol Serang–Panimbang. Ada juga proyek LRT Jakarta Fase 1B Velodrome–Manggarai serta Jalan Tol Bogor–Ciawi–Sukabumi.

Tak hanya itu, daftar proyeknya masih panjang. Mulai dari jalan Tol Probolinggo–Banyuwangi, pembangunan Dermaga Marunda, hingga proyek di Ibu Kota Nusantara (IKN) seperti Jalan Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) dan Gereja Basilika. Proyek UCC LNG Tangguh dan pembangunan Kantor Gubernur Papua Selatan juga masuk dalam portofolio mereka.

Jadi, perjalanan menuju target 2026 jelas tidak mudah. Tapi dengan strategi yang mereka susun, WSBP berharap bisa perlahan membalikkan keadaan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler