Saham DEWA Melonjak ke Level Tertinggi 15 Tahun, Bakrie Group Panen Untung

- Selasa, 09 Desember 2025 | 11:40 WIB
Saham DEWA Melonjak ke Level Tertinggi 15 Tahun, Bakrie Group Panen Untung

Dua hari ini, saham-saham Grup Bakrie yang juga punya kaitan dengan Grup Salim terus menunjukkan performa yang cukup menarik. Momentum positifnya sepertinya belum mau berhenti.

Di papan perdagangan BEI, Selasa (9/12/2025) menjelang siang, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) benar-benar melesat. Sahamnya naik 11,35 persen ke level Rp510 per unit. Ini adalah harga tertinggi yang dicapai DEWA dalam lebih dari 15 tahun terakhir. Yang bikin heboh, nilai transaksinya nyaris tak main-main: Rp 1,17 triliun.

Lonjakan ini melanjutkan kenaikan 11,17 persen yang terjadi sehari sebelumnya. Kalau dilihat dalam rentang waktu yang lebih panjang, pergerakannya makin dramatis. Dalam sebulan terakhir, DEWA sudah naik 47 persen. Dan sepanjang tahun 2025 ini, kenaikannya bahkan mencapai 355 persen. Sungguh luar biasa.

Analis dari Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) punya pandangan tersendiri. Dalam risetnya pertengahan November lalu, mereka menilai DEWA memasuki tahun 2025 dengan pondasi yang jauh lebih kuat.

Restrukturisasi besar-besaran, termasuk konversi utang Rp1,4 triliun dan pinjaman sindikasi baru Rp2,6 triliun, berhasil menurunkan leverage perusahaan. Di sisi lain, langkah itu juga memperkuat modal kerja untuk mendukung rencana ekspansi.

Menurut KISI, fokus DEWA kini bergeser dari sekadar memulihkan margin menuju akselerasi laba. Targetnya adalah pertumbuhan pendapatan dua digit dan mengembalikan margin EBITDA di atas 25 persen.

Apa pendorong utamanya? Program internalisasi armada. Dengan program ini, porsi pekerjaan yang ditangani sendiri oleh DEWA diproyeksikan naik dari 46 persen di 2024 menjadi hampir 80 persen pada 2026. KISI memperkirakan, setiap kenaikan 10 persen dalam internalisasi bisa menambah margin EBITDA sekitar 600-700 basis poin.

Tak cuma itu, perusahaan juga sedang merambah ke mineral lain. Lewat PT Gayo Mineral Resources (GMR), mereka menggarap prospek tembaga-emas di Aceh. Inisiatif ini dinilai membuka pintu pertumbuhan baru di aset non-batubara yang biasanya punya margin lebih tinggi. Posisi DEWA sebagai kontraktor multikomoditas pun makin kukuh.

Di tengah gejolak pasar yang cukup tajam, DEWA ternyata punya rencana lain: membeli kembali sahamnya sendiri atau buyback. Aksi ini, berdasarkan keterbukaan informasi yang beredar, tak memerlukan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Mereka mengacu pada aturan OJK, termasuk surat tertanggal 17 September 2025.

Periode buyback ditetapkan mulai 19 November 2025 hingga 19 Februari 2026. Perusahaan ini menyiapkan dana maksimal Rp1,66 triliun dari kas internal. Targetnya, membeli kembali hingga 10 persen dari total saham yang beredar.

Manajemen meyakini langkah ini tak akan mengganggu kinerja atau likuiditas DEWA. Malah, dalam skenario buyback penuh, laba per saham (EPS) diproyeksikan naik dari Rp4,13 menjadi Rp4,59.

Mekanismenya fleksibel, bisa bertahap atau sekaligus. Buyback bisa dihentikan jika dananya habis, periode berakhir, atau ada keputusan internal untuk menghentikannya. Soal harga, tentu akan mengikuti ketentuan kewajaran yang berlaku.

Namun begitu, tidak semua saham dalam lingkup Bakrie bergerak hijau. Di sisi lain, saham-saham seperti BRMS, ENRG, dan VKTR justru tercatat melemah tipis. Sementara itu, BUMI dan BNBR masih ikut merasakan imbas positif, dengan kenaikan masing-masing 5,56 persen dan 4,94 persen.

Seperti biasa, semua keputusan investasi ada di tangan investor. Informasi ini sekadar gambaran, bukan ajakan untuk membeli atau menjual.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar