Farras juga menyoroti dua hal: kebutuhan dolar yang biasanya membesar di akhir tahun, serta net-sell asing yang meski moderat, tetap membuat pelaku pasar waspada. Kombinasi ini bikin situasi di pasar uang dan pasar modal terasa sedikit genting.
Lalu, apa yang diharapkan dari The Fed? Pasar hampir yakin, tepatnya 89,2% kemungkinan, bahwa suku bunga AS akan dipangkas 25 basis poin. Keputusan yang bakal diumumkan pekan depan itu dinanti-nanti.
"Ekspektasi ini juga mendukung harga emas, dan berpotensi mengangkat indeks saham AS dan Asia," tambah Farras.
Jadi, meski IHSG meroket ke rekor tertinggi, napas panjang masih diperlukan. Semua mata kini tertuju ke Washington, menunggu keputusan yang bisa mengubah arah angin dalam sekejap.
Artikel Terkait
Prabowo Tegaskan Indonesia Tak Pernah Ingkar Janji Bayar Utang
HOME Syariah: Dari Renovasi Rumah hingga Kebangkitan Ekonomi Keluarga
Prabowo di Davos: Stabilitas dan Danantara Jadi Modal Indonesia Jadi Negeri Peluang
LPS Teguhkan Suku Bunga Penjaminan Simpanan Hingga 2026