Efeknya, porsi kepemilikannya di ARKO pun menyusut. Dari sebelumnya memegang 47,52% atau 1,39 miliar saham, kini posisinya turun ke 41,88% atau setara 1,22 miliar saham. Meski berkurang, Hartono jelas masih menjadi pemegang saham pengendali.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di balik aksi divestasi ini? Konteksnya jadi makin menarik jika melihat kondisi saham ARKO belakangan ini. Perusahaan yang masuk dalam portofolio Astra International ini sempat menjadi buah bibir. Harganya melonjak luar biasa, naik 246% hanya dalam sebulan, hingga mencapai Rp4.700 per saham pada 27 November.
Namun begitu, ada kabar lain yang bikin was-was. Bursa Efek Indonesia ternyata telah menjatuhkan suspensi untuk saham ARKO. Penghentian perdagangan itu berlaku mulai sesi I tanggal 28 November, dan masih berlangsung sampai sekarang menunggu pengumuman lebih lanjut. Situasi ini tentu menimbulkan tanda tanya besar di kalangan investor.
Dengan catatan kenaikan fantastis sepanjang tahun ini yang mencapai 410%, aksi jual besar-besaran oleh sang pengendali di tengah masa suspensi ini memang mengundang spekulasi. Semua mata kini tertuju menunggu perkembangan selanjutnya.
Artikel Terkait
Gaji Pensiun PNS 2026: Tak Ada Kenaikan Tambahan, Aturan Masih Mengacu ke 2024
Pasar Tertegang Menunggu Trump Bicara di Davos, Netflix Ikut Warna-i Sentimen
Trump di Davos: Pamer Ekonomi AS dan Kritik Pedas untuk Eropa
Batu Bara Dominan, KAI Logistik Tumbuh 4% dari Layanan Lain