Suasana di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, pada Kamis lalu terlihat ramai. Aktivitas jual beli bahan pokok berlangsung sibuk, tapi di balik keramaian itu ada satu cerita yang mendominasi: harga yang merangkak naik.
Data terbaru dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) mengonfirmasi apa yang dirasakan para pembeli. Dalam empat hari terakhir, mayoritas komoditas di pasar induk itu harganya naik. Bukan cuma satu atau dua jenis, tapi banyak.
Cabai rawit merah, misalnya, sudah menyentuh level Rp 96.250 per kilogram. Rekannya, rawit hijau, juga ikut meroket ke kisaran Rp 63.050 per kg. Untungnya, ada sedikit kabar baik untuk bawang merah ukuran sedang yang masih bertahan di angka Rp 49.700 per kg cukup stabil untuk saat ini.
Lalu, apa penyebabnya? Menurut sejumlah analisis, cuaca ekstrem di beberapa daerah sentra produksi diduga jadi biang kerok. Panen terganggu, distribusi pun tak lancar. Hasilnya, pasokan yang sampai ke ibu kota berkurang.
Di sisi lain, momentumnya juga kurang bersahabat. Kita sedang bersiap menyambut Natal dan Tahun Baru (Nataru). Periode seperti ini permintaan dari rumah tangga dan pelaku usaha kuliner selalu melonjak. Tekanan terhadap harga pangan pun jadi semakin kuat, sebuah pola yang hampir terjadi setiap tahun.
Dengan kondisi seperti ini, harapan kini tertumpu pada langkah antisipasi pemerintah. Pengawasan ketat terhadap suplai dan jaringan distribusi dinilai krusial. Tujuannya jelas: mencegah kenaikan harga yang sudah terjadi ini jadi semakin meluas, terutama ketika puncak musim liburan tiba nanti.
Artikel Terkait
Petrosea Lepas Saham Kemilau Mulia Sakti Rp1,73 Triliun demi Fokus Bisnis Inti
Dharma Polimetal Bagikan Dividen Rp329,41 Miliar dari 50% Laba Bersih 2025
Wall Street Bangkit Didorong Optimisme AI dan Laporan Keuangan Kuat
Astra Otoparts Catat Kenaikan Laba Bersih 10,6% di Kuartal I-2026