Industri otomotif dalam negeri lagi menghadapi tekanan yang nggak main-main. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengakui hal itu. Tantangan terbesarnya? Impor komponen yang terus membengkak. Data periode Januari sampai September 2025 menunjukkan nilai impor otomotif secara keseluruhan tembus USD 8,23 miliar. Nah, dari angka segitu, kontribusi impor komponennya sendiri mencapai USD 2,29 miliar. Cukup signifikan, bukan?
"Memang terjadi kenaikan [impor] tahun lalu dan tahun ini, hampir 20 persen," ujar Agus dalam acara Akses Kemitraan IKM dan Industri Besar, Selasa (2/12).
Ia lantas menambahkan, "Kalau saja bisa kita manfaatkan, kita berikan peluang bagi industri-industri dalam negeri, khususnya industri kecil menengah."
Nah, di sinilah poin krusialnya. Menperin memastikan bahwa pihaknya masih terus mengupayakan kebijakan insentif dan stimulus untuk sektor otomotif di tahun 2026. Tujuannya jelas: menekan ketergantungan impor. Pembahasan masih berlangsung, tapi Agus bersikukuh untuk memperjuangkannya. Menurutnya, industri ini punya efek berantai atau forward backward linkage yang besar, plus penyerapan tenaga kerja yang masif. "Karena itu, kami tetap mengusulkan insentif atau stimulus untuk sektor otomotif," tegasnya.
Rasanya wajar saja usulan itu muncul. Kondisi di lapangan memang lagi berat. Agus bahkan bercerita tentang percakapan personalnya dengan salah satu produsen kendaraan.
"Saya bisik-bisik bilang, bagaimana Pak, berat? Mungkin karena yang nanya menteri, enggak berani jawab berat. Tapi saya tahu muka-muka yang ini sedang galau, ya memang harus galau," ujarnya dengan nada prihatin.
Data-data resmi pun membenarkan kegalauan itu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, saat industri alat angkut tumbuh tipis 1,4 persen, industri kendaraan bermotor justru anjlok dan terkontraksi hingga 10 persen. Laporan dari Gaikindo juga tak lebih cerah: penjualan mobil secara wholesale periode Januari-Oktober 2025 cuma 634.844 unit. Angka itu turun 10,6 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai 711.064 unit.
"Oleh sebab itu, merupakan tanggung jawab kami. Salah kalau kami tidak perjuangkan. Doakan saja, saya akan terus berjuang agar sektor otomotif bisa kembali baik," ucap Agus penuh keyakinan.
Rencananya, insentif yang sedang dirumuskan akan menjawab tantangan dari dua sisi sekaligus: permintaan dan pasokan. Harapannya, Industri Kecil Menengah (IKM) bisa terdorong untuk memproduksi produk substitusi impor. Langkah ini bukan cuma buat naikin nilai tambah manufaktur, tapi juga penting banget buat perekonomian nasional secara keseluruhan.
Di sisi lain, ada harapan besar yang menggelayut. Agus berharap kesuksesan manufaktur otomotif konvensional bisa ditiru di era kendaraan listrik atau EV. Ia ingin IKM juga kebagian peran dalam rantai pasok komponen EV. Tapi, ya, jalan menuju sana masih terhalang satu tantangan besar: baterai.
"Kalau sebentar lagi Indonesia bisa produksi baterai, nilai TKDN-nya akan jauh lebih tinggi. Apalagi kalau kita bisa melibatkan IKM dalam rantai pasok EV," ujar Agus.
Sayangnya, impian tingginya Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk EV masih terganjal karena baterai ini belum bisa diproduksi sepenuhnya di dalam negeri.
Namun begitu, perjuangan untuk mendapatkan insentif 2026 ini nggak semulus yang dibayangkan. Ada suara berbeda dari pemerintah sendiri. Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto, menyatakan bahwa kebijakan insentif perlu dikaji ulang agar tepat sasaran.
"Pertanyaannya, apakah masih diperlukan insentif jika suatu industri sudah cukup kuat? Kami melihat ruang kebijakan dapat dipertimbangkan untuk sektor-sektor prioritas lain yang membutuhkan dukungan lebih besar," ucap Haryo.
Sampai saat ini, posisinya masih mengambang. Pemerintah pusat mengaku belum menerima pengajuan resmi soal insentif otomotif 2026 dari kementerian atau lembaga teknis manapun. Meski begitu, Kemenko Perekonomian menyatakan pintu diskusi masih terbuka lebar tentu saja, jika ada usulan baru yang diajukan nanti.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Naik Rp40.000 Jadi Rp2,88 Juta per Gram
IHSG Terperosok 0,92% di Awal Sesi, Mayoritas Sektor Tertekan
Modal Rp 1 M hingga Rp 6 M, Ini Rincian Investasi Buka SPBU Mitra Pertamina
Ketegangan AS-Iran Guncang Pasar, Indeks Saham AS Beragam di Awal Pekan