Wall Street menutup perdagangan Senin kemarin dengan catatan merah. Tekanan datang dari dua arah: lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan data manufaktur yang ternyata masih lesu. Nah, pekan depan, semua mata akan tertuju pada rapat kebijakan Federal Reserve.
Indeks Dow Jones anjlok cukup dalam, turun 427.09 poin (atau 0,90%) ke level 47.289,33. Sementara itu, S&P 500 dan Nasdaq juga ikut melemah, masing-masing 0,53% dan 0,38%. Data dari Reuters mengonfirmasi sentimen negatif yang menyelimuti pasar itu.
Laporan dari Institute for Supply Management (ISM) jadi salah satu pemicunya. Ternyata, aktivitas manufaktur AS sudah berkontraksi selama sembilan bulan berturut-turut. Pesanan yang lemah dan tekanan harga masih jadi masalah serius.
Di tengah kondisi itu, spekulasi tentang pemotongan suku bunga The Fed justru kian kencang. CME FedWatch Tool menunjukkan peluang sekitar 85,4% untuk potongan 25 basis poin dalam pertemuan 10 Desember nanti. Tapi anehnya, imbal hasil obligasi malah merangkak naik hari Senin. Ini dipicu komentar dari Gubernur Bank of Japan yang memberi sinyal kenaikan suku bunga, yang kemudian berimbas ke obligasi global. Ingat, kalau imbal hasil naik, harga obligasinya justru turun.
Kenaikan imbal hasil itu langsung terasa dampaknya. Sektor real estat dan utilitas di indeks S&P 500 yang sering dianggap sebagai pengganti obligasi terbebani cukup berat.
“Pasar masih didorong oleh kinerja laba, kita telah melewati musim laporan laba, tetapi kini fokusnya beralih ke The Fed,”
kata Joe Saluzzi, Co-Founder Themis Trading.
Meski beberapa pejabat The Fed bersikap hati-hati, sinyal-sinyal ‘dovish’ dari anggota kunci dan kabar soal kandidat pengganti Jerome Powell telah memompa ekspektasi untuk pelonggaran kebijakan. Powell sendiri rencananya berpidato nanti malam, tapi diperkirakan tak akan bahas kebijakan moneter karena terlalu dekat dengan jadwal rapat.
“Saya rasa pasar hanya menunggu sedikit petunjuk, tetapi tampaknya keputusan pemangkasan suku bunga sudah di depan mata,” tambah Saluzzi.
Tak cuma saham, aset kripto juga ikut terpuruk. Bitcoin terjun bebas hampir 6%, sempat menyentuh di bawah $85.000. Imbasnya, saham-saham terkait kripto seperti Coinbase dan Bitfarms ikut terperosok. Bahkan MicroStrategy, pemegang bitcoin terbesar, terpaksa memangkas proyeksi labanya untuk tahun depan.
Di sisi lain, ada sedikit cahaya di sektor ritel. Bertepatan dengan Cyber Monday, belanja online diprediksi tembus $14,2 miliar. Saham raksasa seperti Walmart dan Target pun mencatatkan kenaikan tipis.
Ada juga lonjakan menarik dari saham Synopsys, yang melesat 4,9% setelah Nvidia mengumumkan investasi $2 miliar ke perusahaan desain semikonduktor itu.
Secara keseluruhan, suasana pasar lebih banyak didominasi pelemahan. Rasio saham turun vs naik cukup timpang, baik di NYSE maupun Nasdaq. Volume perdagangan hari itu tercatat 15,64 miliar saham lebih sepi dari rata-rata 20 hari terakhir. Sepertinya banyak investor yang memilih menunggu, menahan napas menanti keputusan The Fed pekan depan.
Artikel Terkait
Petinggi BCA Borong Saham Sendiri di Tengah Tekanan Jual
IMF Peringatkan Utang AS Capai 125% PDB, Butuh Penyesuaian Fiskal Terbesar
Cerebras Systems Ajukan IPO di Nasdaq Didukung Komitmen Besar OpenAI
Harga Minyak Sawit Malaysia Melemah, Dihantam Permintaan Lesu dan Anjloknya Harga Minyak Dunia