Harga minyak dunia yang fluktuatif membuat OPEC memilih langkah hati-hati. Dalam pertemuan virtual yang digelar Minggu lalu, koalisi negara pengekspor minyak ini sepakat menahan produksi minyak mentah mereka. Kebijakan ini akan berlaku hingga Maret 2026.
Rapat menteri dua tahunan yang digelar pada 30 November waktu setempat itu menghasilkan keputusan untuk menunda kenaikan produksi pada tiga bulan pertama tahun 2026. Langkah ini mengikuti kenaikan kecil yang rencananya dilakukan akhir 2025.
Menurut pernyataan resmi mereka, proyeksi permintaan musiman yang lebih lemah menjadi alasan utama. Tapi sebenarnya, ada faktor eksternal yang lebih kompleks. Pasar minyak global sedang diliputi ketidakpastian, mulai dari negosiasi Rusia-Ukraina hingga dinamika geopolitik lainnya.
Para pelaku pasar kini menunggu sinyal baru dari upaya diplomatik. Jika berhasil, minyak Rusia bisa kembali membanjiri pasar global. Situasi ini jelas akan mengubah peta pasokan secara signifikan.
Analis Rystad Energy Jorge Leon lewat AFP memberikan pandangannya.
"Rusia dan Ukraina masih berada dalam fase negosiasi damai yang sensitif dan bisa membentuk ulang pasar minyak. Sementara itu, ketegangan antara AS dan Venezuela masih meningkat tajam," ujarnya.
Kalau ketegangan Rusia-Ukraina mereda, risiko geopolitik yang selama ini mendongkrak harga minyak pasti berkurang. Sebaliknya, jika negosiasi mentok, pasar akan kembali fokus pada sanksi AS terhadap raksasa energi Rusia seperti Lukoil dan Rosneft.
Artikel Terkait
KB Bank Pacu Ekspansi Petro Oxo Nusantara dengan Kredit Sindikasi Rp 1,5 Triliun
BELL Melonjak 34%, Siapa Dalang di Balik Emiten Tekstil Lawas Ini?
Konsumsi Masyarakat Menguat, Inflasi Tetap Terjaga Jelang Pergantian Tahun
Utang Luar Negeri RI Menyusut, BI: Setiap Dolar Harus Bekerja untuk Pembangunan