Bea Cukai Gagalkan Ekspor Fiktif, dari Dokumen Rokok hingga Muatan Air Mineral

- Senin, 24 November 2025 | 20:54 WIB
Bea Cukai Gagalkan Ekspor Fiktif, dari Dokumen Rokok hingga Muatan Air Mineral
Bea Cukai Ungkap Modus Ekspor Nakal

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai kini semakin ketat dalam mengawasi arus ekspor. Caranya? Mereka memadukan dua teknologi canggih: pemindai kontainer Hi-Co Scan dan sistem kecerdasan buatan atau AI. Kombinasi ini ternyata sudah membuahkan hasil. Baru-baru ini, mereka berhasil mengungkap modus penipuan under invoicing yang dilakukan oleh sejumlah eksportir nakal.

Menurut Djaka Budhi Utama, Dirjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, ada kasus menarik yang terungkap. Dokumen ekspor menyebutkan komoditasnya adalah rokok. Tapi, setelah kontainernya dipindai dengan Hi-Co Scan, isinya ternyata air mineral. Jelas sekali ini upaya manipulasi dokumen untuk mengelak dari kewajiban pajak dan aturan perdagangan yang berlaku.

“Yang ini kemarin dilaporkan bentuk ekspor rokok tapi yang diekspor adalah air mineral. Ini perlu jadi pertanyaan kita bahwa ekspor air mineral itu keperluannya untuk apa? Itu kita masih dalami,”

kata Djaka dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Senin (24/11).

Hi-Co Scan sendiri sebenarnya dimiliki oleh Pelindo, tapi dioperasikan oleh pihak ketiga. Alat ini sekarang dipakai lebih intens untuk mendeteksi selisih antara dokumen dan barang asli di dalam kontainer. Saat ini, perangkat tersebut sudah terpasang di beberapa pelabuhan besar seperti Tanjung Priok, Tanjung Perak, dan Belawan. Di Priok saja, ada sepuluh unit yang aktif beroperasi.

“Sudah ditempatkan Hi-Co Scan dan itu sangat-sangat membantu, dan saat kunjungan Pak Menkeu di Surabaya itu adalah berdasarkan hasil Hi-Co Scan termasuk beberapa waktu lalu kita berhasil gagalkan ekspor fiktif di kawasan berikat,”

tambah Djaka.

Selain andalkan Hi-Co Scan, Bea Cukai juga sedang uji coba teknologi AI. Fungsinya untuk mengecek apakah harga barang di dokumen ekspor itu wajar atau tidak. Sistem AI ini nantinya akan membandingkan harga yang tercantum dengan harga pasaran di e-commerce dan e-katalog pemerintah.

“Kita menggunakan AI sudah kita kembangkan. Mudah-mudahan pada bulan Desember ini kita uji coba untuk melihat perbandingan harga barang yang ada di e-commerce maupun e-katalog. Sehingga kita bisa menentukan berapa harga normal yang ditentukan ataupun penentuan tarifnya,”

jelasnya lagi.

Di sisi lain, upaya penguatan ini disambut baik oleh Komisi XI DPR. Mukhamad Misbakhun, Ketua Komisi XI, mengaku senang karena Hi-Co Scan akhirnya diaktifkan. Pasalnya, dalam beberapa kunjungan DPR ke pelabuhan sebelumnya, peralatan ini sering ditemukan dalam keadaan mati.

“Berapa kali kita kunjungan spesifik ke pelabuhan-pelabuhan mengecek peralatan itu semua enggak hidup, tapi bapak memang punya. Sekarang kalau dihidupkan kita senang,”

kata Misbakhun.

Dengan dua teknologi ini di tangan, Bea Cukai berharap pengawasan ekspor bisa jauh lebih presisi. Mereka optimis modus manipulasi dokumen hingga ekspor fiktif bisa ditekan secara signifikan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar