Direktorat Jenderal Bea dan Cukai kini semakin ketat dalam mengawasi arus ekspor. Caranya? Mereka memadukan dua teknologi canggih: pemindai kontainer Hi-Co Scan dan sistem kecerdasan buatan atau AI. Kombinasi ini ternyata sudah membuahkan hasil. Baru-baru ini, mereka berhasil mengungkap modus penipuan under invoicing yang dilakukan oleh sejumlah eksportir nakal.
Menurut Djaka Budhi Utama, Dirjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, ada kasus menarik yang terungkap. Dokumen ekspor menyebutkan komoditasnya adalah rokok. Tapi, setelah kontainernya dipindai dengan Hi-Co Scan, isinya ternyata air mineral. Jelas sekali ini upaya manipulasi dokumen untuk mengelak dari kewajiban pajak dan aturan perdagangan yang berlaku.
“Yang ini kemarin dilaporkan bentuk ekspor rokok tapi yang diekspor adalah air mineral. Ini perlu jadi pertanyaan kita bahwa ekspor air mineral itu keperluannya untuk apa? Itu kita masih dalami,”
kata Djaka dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Senin (24/11).
Hi-Co Scan sendiri sebenarnya dimiliki oleh Pelindo, tapi dioperasikan oleh pihak ketiga. Alat ini sekarang dipakai lebih intens untuk mendeteksi selisih antara dokumen dan barang asli di dalam kontainer. Saat ini, perangkat tersebut sudah terpasang di beberapa pelabuhan besar seperti Tanjung Priok, Tanjung Perak, dan Belawan. Di Priok saja, ada sepuluh unit yang aktif beroperasi.
“Sudah ditempatkan Hi-Co Scan dan itu sangat-sangat membantu, dan saat kunjungan Pak Menkeu di Surabaya itu adalah berdasarkan hasil Hi-Co Scan termasuk beberapa waktu lalu kita berhasil gagalkan ekspor fiktif di kawasan berikat,”
tambah Djaka.
Artikel Terkait
OCBC NISP Bagikan Dividen Rp1,03 Triliun, Nilai per Saham Turun 58%
Avian Brands Bagikan Dividen Final Rp709 Miliar, Total 2026 Capai Rp1,36 Triliun
Analis Soroti Anomali: Kinerja BCA Gemilang, Harga Saham Justru Anjlok
ARNA Bagikan Dividen Rp330 Miliar, Setara Rp45 per Saham untuk Tahun Buku 2025