Target Rp 141 Triliun Freeport di 2025, Produksi Emas Anjlok 50%

- Senin, 24 November 2025 | 13:30 WIB
Target Rp 141 Triliun Freeport di 2025, Produksi Emas Anjlok 50%

PT Freeport Indonesia (PTFI) punya target ambisius untuk akhir 2025: meraup pendapatan penjualan tembaga dan emas hingga USD 8,5 miliar. Kalau dirupiahkan, angkanya fantastis, sekitar Rp 141,95 triliun.

Namun begitu, Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengaku bahwa capaian ini sebenarnya hanya 82% dari target awal. Rencana Kerja dan Anggaran Pembiayaan (RKAB) pertama mereka sebenarnya menargetkan angka yang lebih tinggi, yakni sekitar USD 10,4 miliar.

"Kami bisa mencapai pendapatan penjualan pada tahun ini sekitar USD 8,5 miliar. Atau hanya turun 18 persen dari proyeksi sesuai dengan RKAB,"

kata Tony dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Senayan, Jakarta, Senin (24/11).

Lantas, apa yang menyebabkan realisasi tak sesuai harapan? Ternyata, kinerja di semester pertama 2025 cukup terpukul. Kebakaran di smelter memicu efek berantai. Inventori konsentrat menumpuk di Timika, yang akhirnya memaksa perlambatan operasi penambangan. Bahkan di triwulan pertama, produksi sempat merosot hingga level 40%.

Akibatnya, dari target volume penjualan tembaga sekitar 770 ribu ton, perusahaan hanya bisa menyentuh angka 537 ribu ton hingga akhir tahun nanti.

Di sisi lain, produksi emas juga tak kalah terdampak. Proyeksinya cuma 33 ton, alias setengah dari target RKAB 2025 yang 67 ton. Tony menyoroti insiden lain yang turut andil: luncuran material basah di Tambang Grasberg pada 8 September lalu.

"Jadi walaupun produksi tembaga berkurang 30 persen, emas berkurang 50 persen, kami bisa mencapai pendapatan penjualan pada tahun ini sekitar 8,5 miliar dolar,"

jelasnya lagi, mencoba melihat sisi positif di tengah tantangan.

Lalu, bagaimana dengan rencana produksi tahun depan?

Berdasarkan RKAB yang sudah direvisi dan diserahkan ke Kementerian ESDM, target produksi untuk 2026 ternyata turun cukup signifikan. Untuk katoda tembaga, dari rencana awal 700 ribu ton, kini diproyeksikan hanya 478 ribu ton. Itu artinya sekitar 68% dari target lama 703 ribu ton.

Skenario serupa terjadi pada emas. Dari target 45 ton, RKAB baru memproyeksikan produksi hanya 26 ton.

"Dan ini semuanya (emas) akan dikonsumsi oleh PT Antam. Tidak ada rencana untuk mengekspor emas (pada 2026),"

tegas Tony.

Yang menarik, meski volume produksi turun tembaga turun 32% dan emas 43% proyeksi pendapatan penjualan dalam RKAB baru ini hampir sama dengan RKAB lama. Sekitar USD 8,5 miliar juga.

"Tapi rencana pendapatan penjualan itu bisa hampir 100 persen sama dengan RKAB yang lama,"

tuturnya.

Berkat harga jual yang diperkirakan lebih kuat, penerimaan negara pada 2026 pun ikut terdongkrak. Dari yang semula diproyeksikan USD 2,7 miliar dalam RKAB lama, angka ini naik menjadi USD 2,9 miliar.

"Dengan harga yang diperkirakan kencang lebih baik penerimaan negara itu akan mencapai 2,9 miliar dolar,"

pungkas Tony.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar