"Limbah daun nanas memiliki nilai fungsi dan nilai ekonomis, petani pun tersenyum karena mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual limbah daun itu," ujarnya.
Kini, rumah produksinya telah memberdayakan masyarakat sekitar untuk mengolah 3,2 ton limbah daun nanas setiap bulannya. Dari jumlah itu, mereka bisa menghasilkan sekitar 50 hingga 60 kilogram serat kering. Serat inilah yang kemudian diubah menjadi beragam produk eco-fashion. Mulai dari benang, topi, tas makrame, dompet, selendang, sampai berbagai pernak-pernik menarik lainnya.
Di sisi penjualan, mereka tak ketinggalan zaman. Dengan memanfaatkan jaringan internet dan platform e-commerce, produk-produk ini bisa sampai ke tangan konsumen di hampir seluruh penjuru Indonesia. Harganya bervariasi, mulai dari Rp 95 ribu sampai Rp 600 ribu.
Yang lebih membanggakan, dalam kurun waktu 2021 hingga 2022, produk olahan limbah daun nanas ini berhasil menembus pasar ekspor. Negara-negara seperti Singapura, Malaysia, Jepang, Jerman, dan Belanda sudah menjadi langganan. Omzetnya? Mencapai ratusan juta rupiah.
Selain jadi pusat produksi, tempat ini juga telah berubah menjadi semacam sarana edukasi. Banyak pelajar, mahasiswa, pengusaha, bahkan perangkat daerah yang sengaja datang untuk belajar dan melakukan penelitian.
Dengan kombinasi pengetahuan, teknologi, dan digitalisasi, Alan dan timnya membuktikan satu hal: berkah bisa datang dari mana saja, bahkan dari tumpukan daun nanas yang hampir terbuang. Mereka tak cuma mencari untung, tapi juga menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan roda perekonomian lokal. Sungguh sebuah terobosan yang patut diacungi jempol.
Artikel Terkait
IHSG Terperosok 0,97%, Hampir Semua Sektor Tertekan
Analis: Reli IHSG 6% Ditopang Domestik, Investor Asing Masih Keluar Rp3,3 Triliun
Analis: IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan Meski Risiko Masih Mengintai
Saham Konglomerasi Bangkit, Pasar Masih Waspada Menunggu Keputusan MSCI