LAMPUNG GEH, BANDAR LAMPUNG – Ruang belajar bagi pemuda untuk isu keberlanjutan kembali hadir. AIESEC Universitas Lampung (Unila) sukses menggelar Impact Circle 12.0 pada Sabtu (22/11), berkolaborasi dengan Universitas Bandar Lampung (UBL). Fokusnya jelas: mendorong generasi muda mewujudkan kota berkelanjutan.
Presiden AIESEC Unila menegaskan, acara ini memang dirancang untuk memicu kepedulian. “Pemuda harus berada di garis depan perubahan,” tegasnya. Menurutnya, Impact Circle bukan sekadar seminar, melainkan ruang di mana anak muda bisa benar-benar memahami isu pembangunan berkelanjutan, lalu menerapkannya dalam keseharian.
Di sisi lain, Praditya Vito Pratama selaku PIC Impact Circle 12.0 punya harapan besar. Ia ingin kegiatan ini membangun brand awareness yang kuat di kalangan mahasiswa. “Kami ingin aktivitas AIESEC dan isu SDGs semakin dikenal, terutama di kalangan anak muda Lampung,” ujar Vito.
Narasumber yang hadir, Fritz Akhmad Nuzir dari SDGs Center UBL, menyoroti satu hal penting: menyiapkan pemuda sebagai calon pemimpin masa depan. Baginya, pembangunan kota yang berhasil tidak cuma soal fisik seperti infrastruktur, tapi juga pemahaman warga tentang keberlanjutan.
“Pemuda hari ini adalah calon leader SDGs masa depan. Mereka harus dibekali pengetahuan, empati, dan kemampuan berkontribusi,” ujarnya.
Fritz juga menyentuh soal inklusivitas. Pembangunan kota, katanya, harus memikirkan akses bagi penyandang disabilitas mulai dari transportasi umum, ruang terbuka hijau, hingga fasilitas publik lainnya. Tanpa itu, kota belum bisa disebut benar-benar layak huni.
Artikel Terkait
Arca Panji dari Lereng Penanggungan, Kini Jadi Bahan Ajar di ITB
Foto Rontgen yang Lebih Efektif daripada Dalil: Ketika Perokok Berhadapan dengan Kerusakan Organnya Sendiri
Rusia Ancam Serang Pasukan Asing di Ukraina, Sebut Kesepakatan Paris Poros Perang
Indonesia Pimpin Dewan HAM PBB 2026, Usung Gagasan Presidensi untuk Semua