Kasus kematian Dwinanda Linchia Levi, dosen Untag Semarang yang tewas di sebuah kostel, kian menampakkan titik terang. Hubungannya dengan AKBP Basuki dari Dit Samapta Polda Jateng ternyata bukan sekadar kenalan biasa. Mereka terlibat asmara. Dan yang lebih mengejutkan, Basuki adalah orang terakhir yang mendapati Levi tak bernyawa.
Kisah Asmara di Balik Seragam
Basuki, seorang perwira polisi yang sudah berkeluarga, ternyata menjalin hubungan khusus dengan Levi. "Sudah berkeluarga. Kalau inisial D itu masih gadis," ujar Kabidhumas Polda Jateng, Kombes Pol Artanto, saat dikonfirmasi wartawan pada Kamis (20/10).
Kedekatan mereka bukanlah hal baru. Menurut pengakuan yang terungkap, hubungan ini sudah berjalan sejak 2020. Mereka bahkan disebut-sebut tinggal bersama di kostel yang sama, tempat jenazah Levi akhirnya ditemukan.
Pelanggaran Etik yang Tak Terbantahkan
Di sisi lain, tindakan Basuki ini jelas melanggar aturan. Artanto dengan tegas menyatakan bahwa tinggal bersama perempuan tanpa ikatan pernikahan yang sah adalah pelanggaran berat kode etik profesi Polri. "Ini berkaitan langsung dengan kesusilaan dan perilaku di mata masyarakat," tegasnya.
Namun begitu, soal penyebab kematian Levi, polisi masih tutup mulut. Artanto berdalih penyelidikan masih berlangsung. "Nanti akan jelas saat gelar perkara. Kalau sekarang, penjelasannya bisa parsial dan penyidik belum menuntaskan pekerjaan," katanya.
Langkah Awal: Patsus
Sebagai langkah awal, Basuki kini dikenai penempatan khusus atau patsus selama 20 hari, mulai 19 November hingga 8 Desember 2025. Keputusan ini diambil setelah gelar perkara yang dipimpin Kasubbid Wabprof Bidpropam Polda Jateng, AKBP Hendry Ibnu Indarto.
Kabid Propam Polda Jateng, Kombes Pol Saiful Anwar, menjelaskan bahwa patsus ini untuk memastikan pemeriksaan berjalan profesional dan transparan. "AKBP B diduga melakukan pelanggaran kode etik berupa tinggal bersama seorang wanita berinisial DLV tanpa ikatan perkawinan yang sah," tegas Saiful.
Desakan dari Kampus
Tekanan justru datang dari kalangan kampus. Mahasiswa dan alumni Untag Semarang mendatangi Polda Jateng pada Rabu (19/11). Mereka membawa poster bertuliskan "Justice for Levi" dan menuntut kejelasan.
Perwakilan mereka, Antonius Fransiscus Polu, menyampaikan sejumlah kejanggalan. Menurutnya, meski Levi punya riwayat darah tinggi, ada hal-hal yang tak masuk akal. "Korban ditemukan dalam posisi bugil. Lalu, apa hubungannya dengan saksi kunci? Kita belum tahu," ujar Antonius.
Ia juga mempertanyakan jeda waktu pelaporan kematian. "Basuki tahu pagi, tapi laporannya siang. Jeda waktunya cukup lama. Itu kejanggalan," imbuhnya.
Levi dikenal sebagai dosen yang ramah dan penyayang. Kematiannya yang mendadak dan penuh misteri ini tentu meninggalkan duka dan tanda tanya yang dalam. "Tuntutan kita usut tuntas seterang-terangnya. Kalau tidak diindahkan, akan ada aksi selanjutnya," tegas Antonius.
Misteri di Balik Pintu Kostel
Levi ditemukan tewas pada Senin (17/11) di sebuah kostel di Jalan Telaga Bodas Raya, Semarang. Kondisinya telanjang. AKBP Basuki, yang disebut sebagai orang terakhir bersamanya, kini menjadi pusat perhatian dalam penyelidikan yang masih terus bergulir.
Artikel Terkait
Justin Hubner Ternyata Berdarah Makassar, Foto Prewedding dengan Jennifer Coppen Pakai Busana Adat Bugis Curi Perhatian
Mendikdasmen Kunjungi Pulau Arar, Pastikan Pendidikan Merata hingga Wilayah Terpencil Papua
Gempa Magnitudo 5,1 Guncang Timor Tengah Selatan NTT, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
Makassar Cerah Berawan Sepanjang Hari, Waspada Potensi Hujan Petir di Sulsel