KRL 24 Jam untuk Cikarang: Solusi bagi Pekerja yang Tertinggal Kereta Terakhir?
Isu pekerja yang terpaksa menginap di sekitar Stasiun Cikarang karena tertinggal kereta terakhir ramai diperbincangkan. Fenomena ini menyoroti keterbatasan jam operasi KRL yang berakhir sekitar pukul 23.00 WIB, berdasarkan jadwal resmi Commuter Line.
Merespons hal ini, pengamat transportasi Darmaningtyas dari Institut Studi Transportasi (Instran) mengusulkan pentingnya KAI Commuter memberlakukan operasi KRL 24 jam untuk rute-rute tertentu, termasuk rute Cikarang. Menurutnya, operasi ini dapat dijalankan dengan frekuensi yang lebih longgar, misalnya satu jam sekali, untuk melayani pekerja dengan jam kerja yang tidak lazim.
Usulan lain yang diajukan adalah pembuatan kereta khusus bagi buruh dan pekerja. Kereta ini dirancang untuk mereka yang memulai kerja sangat pagi atau pulang larut malam, dengan sistem tarif yang disubsidi oleh pemerintah. Darmaningtyas menegaskan bahwa fasilitas seperti ini dinilai lebih penting dan langsung menyentuh kebutuhan masyarakat banyak.
“Subsidi untuk kereta khusus pekerja, pedagang kecil, dan petani dianggap lebih bermanfaat secara sosial dibandingkan mengalokasikan dana besar untuk proyek kereta cepat,” jelasnya. Ia berpendapat bahwa langkah ini akan lebih meringankan beban masyarakat menengah ke bawah yang menjadi tulang punggung perekonomian.
Dengan adanya wacana KRL 24 jam dan kereta bersubsidi, diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang bagi mobilitas pekerja, sekaligus mengurangi kejadian pekerja yang terdampar di stasiun.
Artikel Terkait
Pasar Modal Indonesia Pecahkan Rekor: Investor Tembus 20 Juta, Likuiditas Didominasi Ritel
OWK PACK Picu Saham Melonjak, Sentuh ARA Keenam Hari Berturut-turut
Astra Lanjutkan Bantuan Tahap Kedua untuk Korban Banjir Bandang Sumatra
OJK Pastikan Stabilitas Sektor Keuangan Nasional Bertahan Hingga 2025