Bau menyengat sudah tak tertahankan lagi. Itulah keluhan warga sekitar Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, yang setiap hari harus berhadapan dengan gunungan sampah yang kian membubung. Tumpukan itu bukan cuma mengganggu pemandangan, tapi benar-benar merusak kenyamanan.
Menurut pengelola pasar, masalah ini sudah berlangsung sejak akhir tahun lalu. Agus Lamun, Manajer Pasar Induk Kramat Jati, mengakui bahwa penumpukan sampah mulai jadi persoalan serius sekitar bulan November dan Desember 2025.
"Jadi memang penumpukan ini terjadi satu bulan belakangan ya. Kira-kira itu di bulan November dan Desember,"
Ucap Agus saat ditemui di lokasi pada Jumat (9/1/2026).
Lantas, apa penyebabnya? Agus menunjuk pada berkurangnya armada pengangkut sampah. Biasanya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengerahkan sekitar lima belas truk untuk mengangkut sampah dari pasar induk itu. Namun belakangan, jumlahnya menyusut drastis.
“Belakangan di bulan terakhir ini pengiriman armada itu hanya sekitar tujuh-delapan armada. Nah, oleh karenanya, terjadi deposit sampah,” jelasnya.
Singkatnya, dari lima belas truk, yang beroperasi kini cuma delapan. Kekurangan itu jelas menciptakan penumpukan yang tak terhindarkan. Sampah menggunung, bau pun menyebar ke mana-mana, dan warga yang jadi korban.
Artikel Terkait
Untuk pertama kalinya sejak 1957, India tanpa satu pun negara bagian yang diperintah partai komunis
Dinas SDA DKI Inventarisasi Ulang Seluruh Saluran Lama Antisipasi Jalan Amblas
Perayaan Waisak 2570 di Bundaran HI, Wagub Rano Karno Sebut Cahaya Kedamaian Jadi Simbol Toleransi Jakarta
Empat Pria Berhasil Dievakuasi dari Gua Banjir di Laos, Dua Masih Hilang