Beijing Murka, Washington Pamer Kekuatan: Penangkapan Maduro Picu Ketegangan Baru

- Jumat, 09 Januari 2026 | 11:30 WIB
Beijing Murka, Washington Pamer Kekuatan: Penangkapan Maduro Picu Ketegangan Baru

Reaksi Beijing datang cepat. Hanya beberapa jam setelah berita penangkapan kontroversial Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat beredar akhir pekan lalu, Kementerian Luar Negeri Cina sudah menyuarakan kekesalan. Mereka menyatakan "sangat terkejut" dan mengecam apa yang disebutnya "penggunaan kekuatan yang terang-terangan melanggar kedaulatan sebuah negara."

Tak cuma itu, pesan serupa juga disampaikan ke negara-negara Amerika Latin dan Karibia yang disebut Beijing sebagai "teman dan mitra baik". Intinya, Cina siap bekerja sama dengan mereka untuk menghadapi lanskap internasional yang terus berubah, dengan semangat solidaritas tentunya.

Menurut sejumlah pengamat, lewat pernyataan keras ini, Cina jelas berusaha menampilkan diri sebagai kekuatan global yang bertanggung jawab. Gema kritiknya terhadap Washington kemungkinan akan terdengar kuat di seluruh Amerika Latin. Apalagi, di bawah Presiden Donald Trump, AS seperti menghidupkan kembali Doktrin Monroe yang berusia dua abad itu doktrin yang menegaskan dominasi Washington di Belahan Barat. Penangkapan Maduro, dalam konteks ini, bukan cuma peringatan, tapi juga pamer kekuatan.

William Yang, analis senior untuk Asia Timur Laut di International Crisis Group, punya pandangan menarik.

“Beijing kemungkinan akan memanfaatkan kekhawatiran ini,” ujarnya, “untuk menantang posisi internasional AS dan memperdalam pengaruhnya di negara-negara berkembang.”

Dia menambahkan, Cina juga akan memantau dengan saksama bagaimana AS menangani situasi di Venezuela dalam beberapa minggu dan bulan ke depan.

Koneksi yang Terancam Putus

Dampak penangkapan Maduro sekutu penting Beijing di Amerika Latin bagi ekonomi Cina bisa signifikan. Hubungan mereka selama ini sangat erat.

Bersama Maduro, Cina membangun "kemitraan strategis sepanjang waktu". Negeri Tirai Bambu itu menjadi pembeli minyak terbesar Venezuela setelah sanksi AS diperketat pada 2019. Tak hanya beli, Cina juga jual senjata ke rezim tersebut nilai pengirimannya mencapai USD 615 juta antara 2009 hingga 2019, menurut perkiraan AS. Yang lebih krusial, Cina membanjiri Maduro dengan utang miliaran dolar yang hingga kini belum lunas.

Data dari AidData menyebut total pinjaman Cina ke Venezuela tembus USD 105,5 miliar. Sekitar USD 17–19 miliar di antaranya berasal dari program "minyak-tukar-pinjaman" Bank Pembangunan Cina.

Ironisnya, hanya beberapa jam sebelum ditangkap pada Sabtu (3/1) lalu, Maduro sempat menyambut delegasi Tiongkok. Dalam pertemuan yang dia sebut "menyenangkan" itu, mereka menegaskan kembali kemitraan politik dan ekonomi kedua negara.

Setelah kejatuhan Maduro, media AS melaporkan bahwa Trump meminta pemerintahan sementara Venezuela memutus hubungan ekonomi dengan Cina, Rusia, Iran, dan Kuba. Di media sosial, Trump bahkan menyebut Venezuela akan menyerahkan 30 hingga 50 juta barel minyak kepada AS.

Beijing, tentu saja, marah. Mereka mengecam operasi penangkapan itu sebagai pelanggaran hukum internasional.

“Penggunaan kekuatan terang-terangan oleh AS terhadap Venezuela dan tuntutannya 'America First' ketika Venezuela mengelola sumber daya minyak sendiri adalah contoh tipikal aksi intimidasi,” tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Mao Ning, dalam sebuah konferensi pers.

Kemarahan yang (Mungkin) Hanya di Permukaan

Tapi tunggu dulu. Menurut para analis, retorika panas dari Beijing ini harus dibaca dengan hati-hati. Jangan langsung ditelan mentah-mentah.

“Cina tidak peduli pada hukum internasional,” kata Elizabeth Freund Larus, adjunct senior fellow di Pacific Forum. Dia merujuk pada sikap militer Beijing di Laut Cina Selatan dan keengganannya mengutuk invasi Rusia ke Ukraina.

“Kita bisa menerjemahkan peringatan Beijing ke Washington sebagai tuntutan bahwa 'Cina ingin uangnya kembali!' dan 'menuntut agar AS tetap mengalirkan minyak Venezuela ke Cina!'” tambahnya.

Meski bahasanya keras, faktanya Cina belum melakukan tindakan nyata sebagai balasan atas gerakan AS di Venezuela. Ryan Hass, direktur John L. Thornton China Center di Brookings Institution, punya penilaian serupa.

“Beijing kemungkinan tidak akan melangkah lebih jauh dari ekspresi simbolik ketidaksetujuan,” ujarnya.

Dia menambahkan, insiden ini kecil kemungkinannya akan mengubah arah hubungan AS-Cina secara signifikan. “Tindakan AS di Venezuela hanya akan memengaruhi hubungan kedua negara jika membuat Amerika terseret dan terjebak dalam kekacauan di Venezuela.”

Apa Taiwan Jadi Contoh Berikutnya?

Di media sosial Cina, penangkapan Maduro jadi perbincangan hangat. Insiden di seberang Samudra Pasifik itu memicu komentar-komentar dari netizen ultranasionalis. Mereka bilang, AS sedang memberi contoh cara menangani ketegangan dengan Taiwan. Padahal, baru-baru ini Presiden Xi Jinping kembali menegaskan tekadnya untuk menyatukan pulau tersebut, terlepas dari segala ancaman AS.

Ketika ditanya tentang spekulasi terkait Taiwan pada Senin lalu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Lin Jian kembali mengulang garis resmi Beijing: masalah Taiwan adalah "urusan internal" dan "tidak ada kekuatan eksternal yang berhak mencampuri."

Namun begitu, para analis menekankan bahwa membandingkan Venezuela dengan Taiwan itu seperti membandingkan apel dan jeruk. Situasinya jauh berbeda.

“Venezuela adalah negara yang hancur dan dipimpin oleh seorang penguasa otoriter. Taiwan adalah demokrasi yang hidup,” jelas Ryan Hass. “Cina tidak bisa mencapai tujuan di Taiwan hanya dengan menangkap pemimpin terpilihnya.”

Elizabeth Freund Larus menambahkan poin lain.

“Beijing telah berniat mengambil Taiwan jauh sebelum ini dan akan tetap berniat setelah ini. Cina belum melakukannya karena belum ada jaminan kesuksesan. Tapi hari itu semakin dekat, terlepas dari Trump.”

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris.

Diadaptasi oleh Rizki Nugraha

Editor: Yuniman Farid

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar