Berdasarkan data terbaru dari Badan Gizi Nasional (BGN), program MBG telah berhasil menjangkau 40,5 juta masyarakat per 3 November 2025. Cakupan ini diwujudkan melalui 14.004 SPPG yang tersebar di 38 provinsi dan 509 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Inflasi Emas Capai 45 Bulan Berturut-Turut
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan fenomena inflasi emas yang telah berlangsung selama 45 bulan secara berturut-turut sejak Februari 2022. Pada Oktober 2025, inflasi emas perhiasan tercatat mencapai 52,76 persen dengan kontribusi 0,68 persen terhadap inflasi nasional.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyatakan bahwa inflasi secara tahunan (yoy) pada periode tersebut berada di level 2,86 persen. Dari 38 provinsi, inflasi emas tertinggi terjadi di Sumatera Barat sebesar 62,83 persen, sedangkan yang terendah tercatat di Bengkulu sebesar 40,10 persen.
Faktor Pendorong dan Dampak Positif Inflasi Emas
Kenaikan harga emas didorong oleh posisinya sebagai safe haven asset yang sangat dipengaruhi oleh kondisi geopolitik dan geoekonomi global. Harga emas di tingkat konsumen dalam negeri bergerak selaras dengan fluktuasi harga di pasar internasional.
Di sisi penjualan, data dari PT Antam menunjukkan peningkatan signifikan. Total penjualan emas pada periode Januari-September 2025 mencapai 34.164 kg, yang mencerminkan kenaikan 20 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2024.
Meski berkontribusi pada inflasi, tren kenaikan harga dan permintaan emas ini juga membawa dampak positif. Hal ini menandai peningkatan kesadaran masyarakat Indonesia terhadap pentingnya berinvestasi dalam instrumen yang aman dan menguntungkan seperti emas.
Artikel Terkait
Menteri Keuangan Bahas Insentif untuk Merger Tiga Anak Usaha Pertamina
Pemerintah Suntik Napas Segar, Bunga KUR Nol Persen untuk Korban Banjir Sumatera
IHSG Sentuh Zona Hijau di Penutupan Akhir Pekan
Di Balik Saham TRIN yang Melonjak 1.261%, Siapa Pengendali Sebenarnya?