Survei: Mayoritas Karyawan Indonesia Belajar AI Otodidak, 84% Andalkan Media Sosial & YouTube

- Senin, 03 November 2025 | 18:00 WIB
Survei: Mayoritas Karyawan Indonesia Belajar AI Otodidak, 84% Andalkan Media Sosial & YouTube

Survei Ungkap Mayoritas Karyawan Indonesia Aktif Belajar AI Secara Otodidak

Laporan survei Kumparan x Populix berjudul "Indonesia AI Report 2025" mengungkapkan fakta menarik tentang minat belajar kecerdasan buatan di kalangan karyawan Indonesia. Mayoritas responden menunjukkan inisiatif tinggi untuk mempelajari dan beradaptasi dengan teknologi AI, dengan cara belajar secara mandiri melalui berbagai platform digital.

Media Sosial dan YouTube Jadi Sumber Belajar AI Terpopuler

Data survei menunjukkan bahwa 84% karyawan Indonesia memperoleh pengetahuan tentang AI melalui media sosial dan YouTube. Sumber belajar lainnya termasuk artikel online dan blog (51%), media massa dan berita (49%), serta belajar dari teman dan kolega (49%). Hanya 21% responden yang belajar melalui kursus online maupun offline.

Fenomena "Paham di Permukaan" dalam Pembelajaran AI

Temuan ini mengindikasikan semangat belajar yang tinggi meski pendekatannya masih bersifat mandiri dan praktis. Fenomena ini disebut sebagai bentuk "paham di permukaan," di mana publik cepat akrab dengan istilah dan cara penggunaan AI tetapi belum mendalami konsep fundamental di balik teknologi tersebut.

Rama, salah satu narasumber survei, menjelaskan: "Kalau menunggu dari pembelajaran formal, seperti sekolah atau dari university, tidak akan dapat terkejar karena begitu selesai kurikulumnya dibuat, sudah ada 10 LLM baru yang ternyata jauh lebih powerful."

Tingkat Adopsi AI di Tempat Kerja

Survei yang melibatkan 1.000 karyawan di berbagai kota besar Indonesia ini juga mengungkap bahwa 57% responden sudah menggunakan chatbot generatif seperti ChatGPT, Gemini, atau Meta AI dalam keseharian kerja. Sebanyak 45% perusahaan diketahui mendorong penggunaan AI, dan sebagian besar karyawan menilai keterampilan mereka sudah sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.

Tantangan dan Optimisme Terhadap AI

Meski demikian, tantangan utama dalam adopsi AI masih terkait keamanan data (55%) dan akurasi hasil (53%). Di sisi lain, 68% responden optimistis bahwa AI justru akan membuka lapangan kerja baru, terutama di bidang pengembangan teknologi, kreativitas, dan pendidikan.

Dr. Sri Safitri, Sekjen Partnership Kolaborasi Riset & Inovasi Kecerdasan Artificial Indonesia (KORIKA), menekankan: "AI kini bukan lagi sekadar teknologi, tapi sudah menjadi asisten digital yang melekat di keseharian kita," sambil menekankan pentingnya pelatihan dan reskilling bagi pekerja.

Lengkapnya, hasil riset Indonesia AI Report 2025 dapat diakses di sini.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar