Geliat kecerdasan buatan atau AI sekarang nggak cuma urusan teknis belaka. Dunia seni dan budaya pun mulai jadi lahan baru yang digarap serius. Hal inilah yang jadi pembahasan hangat dalam pertemuan "AI Chinese New Year" di Beijing, awal pekan ini.
Menurut Duta Besar RI untuk China, Djauhari Oratmangun, justru di sinilah peluangnya. Kemajuan teknologi AI yang pesat malah membuka jalan lebar bagi Indonesia dan China untuk menjalin kolaborasi di industri kreatif.
"Pemanfaatan teknologi untuk promosi budaya dengan tepat akan dapat berdampak luas," ujarnya di hadapan ratusan undangan dari media dan industri kreatif China.
Dia melanjutkan, dampaknya bukan cuma memperkaya budaya itu sendiri, tapi juga bisa memperkuat koneksi antar masyarakat, lintas generasi dan bangsa.
Indonesia, dengan segala keberagaman budayanya, disebut Djauhari punya sumber ide yang nyaris tak terbatas. Bayangkan saja, berbagai hikayat dan simbol budaya yang kita miliki bisa "dihidupkan" kembali lewat terobosan di bidang musik, animasi, atau film. Potensi ekonominya juga besar. Dia memprediksi, kontribusi industri kreatif terhadap PDB Indonesia pada 2030 bisa mencapai 8 persen dan menyerap sekitar 30 juta tenaga kerja.
Nah, di sisi lain, China jelas jagonya dalam hal teknologi. Kolaborasi antara kekayaan budaya Indonesia dengan kecanggihan teknologi dari negeri Tirai Bambu itu dinilai sebagai pasangan yang serasi.
Artikel Terkait
Deepfake hingga Voice Copy: Ancaman Siber Kini Ada di Sisi Anda
Wajah Jadi Kunci: Daftar Kartu Perdana Bakal Pakai Biometrik Mulai 2026
Sang Penjaga Sunyi: Kisah Sikatan Belang, Burung Mungil Penanda Kesehatan Hutan
Samsung Siapkan 3.800 Galaxy Z Flip7 Edisi Olimpiade untuk Atlet Milano Cortina