Kolaborasi AI dan Budaya: Indonesia-China Garap Lahan Baru di Industri Kreatif

- Rabu, 28 Januari 2026 | 10:24 WIB
Kolaborasi AI dan Budaya: Indonesia-China Garap Lahan Baru di Industri Kreatif

Geliat kecerdasan buatan atau AI sekarang nggak cuma urusan teknis belaka. Dunia seni dan budaya pun mulai jadi lahan baru yang digarap serius. Hal inilah yang jadi pembahasan hangat dalam pertemuan "AI Chinese New Year" di Beijing, awal pekan ini.

Menurut Duta Besar RI untuk China, Djauhari Oratmangun, justru di sinilah peluangnya. Kemajuan teknologi AI yang pesat malah membuka jalan lebar bagi Indonesia dan China untuk menjalin kolaborasi di industri kreatif.

"Pemanfaatan teknologi untuk promosi budaya dengan tepat akan dapat berdampak luas," ujarnya di hadapan ratusan undangan dari media dan industri kreatif China.

Dia melanjutkan, dampaknya bukan cuma memperkaya budaya itu sendiri, tapi juga bisa memperkuat koneksi antar masyarakat, lintas generasi dan bangsa.

Indonesia, dengan segala keberagaman budayanya, disebut Djauhari punya sumber ide yang nyaris tak terbatas. Bayangkan saja, berbagai hikayat dan simbol budaya yang kita miliki bisa "dihidupkan" kembali lewat terobosan di bidang musik, animasi, atau film. Potensi ekonominya juga besar. Dia memprediksi, kontribusi industri kreatif terhadap PDB Indonesia pada 2030 bisa mencapai 8 persen dan menyerap sekitar 30 juta tenaga kerja.

Nah, di sisi lain, China jelas jagonya dalam hal teknologi. Kolaborasi antara kekayaan budaya Indonesia dengan kecanggihan teknologi dari negeri Tirai Bambu itu dinilai sebagai pasangan yang serasi.

"Kolaborasi positif dan produktif antara besarnya potensi budaya dan industri kreatif Indonesia, talenta muda Indonesia dan teknologi canggih Tiongkok, akan semakin memperluas peluang-peluang konkret," tambah Dubes.

MoU Imperial Pictures dan Migu Diteken

Pertemuan ini nggak berhenti di obrolan saja. Ada langkah nyata yang langsung diambil. Imperial Pictures Indonesia resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Migu, perusahaan digital di bawah naungan raksasa telekomunikasi China.

Fokus kerja samanya jelas: penguatan di sektor budaya, industri kreatif, dan konten digital dengan memanfaatkan teknologi AI. "Karena ketika teknologi menghasilkan koneksi kolaborasi yang saling menguntungkan, di situ kita benar-benar merasakan manfaat teknologi," tegas Djauhari.

Acara yang digelar oleh State Administration of Radio, Film, and Television (NRTA) China itu dihadiri berbagai pihak, mulai dari perwakilan Kementerian Kebudayaan China hingga Peking National Opera. Cukup meriah.

Dalam kesempatan yang sama, Dubes Djauhari juga meluncurkan pesan Tahun Baru Imlek perdananya. Pesan video itu rencananya akan disebarluaskan melalui beragam platform digital yang ada di China.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler