Sang Penjaga Sunyi: Kisah Sikatan Belang, Burung Mungil Penanda Kesehatan Hutan

- Rabu, 28 Januari 2026 | 04:00 WIB
Sang Penjaga Sunyi: Kisah Sikatan Belang, Burung Mungil Penanda Kesehatan Hutan

Bayangkan Anda sedang berjalan sendirian di hutan pegunungan. Udara lembap, tajuk pohon begitu rapat hingga cahaya matahari hanya tembus remang-remang. Anda mungkin tak akan menyadari, dari balik rimbunnya dedaunan, sepasang mata kecil sedang mengamati setiap langkah Anda. Bukan mata harimau atau beruang, melainkan seekor burung mungil berwarna hitam putih yang diam bertengger.

Itulah sikatan belang. Kehidupannya hampir seluruhnya dihabiskan di balik tirai hijau hutan. Burung ini bukan tipe yang suka pamer. Suaranya tidak meledak-ledak, warnanya pun tidak mencolok. Tapi justru di situlah letak pesonanya. Ia adalah pengingat halus bahwa keindahan alam seringkali tersembunyi dalam bentuk yang paling sederhana dan rendah hati.

Di kalangan penggemar burung kicau rumahan, nama sikatan belang mungkin tak sering disebut. Ia bukan burung lomba yang digemari. Namun, bagi para peneliti dan pengamat burung liar, spesies ini punya arti penting. Keberadaannya menjadi semacam penanda.

Menurut catatan dalam buku Birds of Sumatra, Java, Bali, and Kalimantan (MacKinnon & Phillipps, 1993), burung ini dianggap sebagai indikator kesehatan ekosistem hutan pegunungan. Kalau dia masih ada dan terlihat, itu pertanda bagus bahwa rantai makanan di hutan itu masih berjalan dengan baik.

Dunia ilmiah mengenalnya sebagai Ficedula westermanni. Ia masuk dalam keluarga Muscicapidae, kelompok burung sikatan. Nama genusnya, Ficedula, konon berasal dari bahasa Latin untuk "pemakan ara", yang agak lucu sebenarnya, karena kenyataannya ia lebih suka menyantap serangga. Nama spesiesnya, westermanni, diberikan untuk menghormati seorang ahli zoologi Belanda abad ke-19, Coenraad Jacob Temminck Westermann.

Orang Inggris menyebutnya Little Pied Flycatcher, yang secara harfiah menggambarkan sosoknya: si pemakan lalat kecil yang belang. Di Indonesia sendiri, namanya bisa beragam. Ada yang menyebut sikatan belang, decu mini, atau decu gunung. Perbedaan ini wajar saja, menunjukkan bagaimana tiap komunitas memberi nama pada satwa di sekeliling mereka.

Dari segi fisik, burung ini benar-benar kecil. Panjangnya cuma sekitar sebelas sentimeter. Tapi penampilannya tegas. Burung jantan punya kombinasi warna yang kontras: hitam pekat di punggung dan kepala, dengan dada serta perut putih bersih. Alis matanya putih, memberi kesan seperti alis yang dicat. Burung betina warnanya lebih kalem, didominasi coklat keabu-abuan.

Perbedaan warna mencolok antara jantan dan betina ini bukan tanpa alasan. Dalam biologi, ini disebut dimorfisme seksual. Charles Darwin pernah membahasnya. Warna jantan yang mencolok berguna untuk menarik perhatian pasangan, sementara warna betina yang lebih kusam membantunya menyamar dengan baik saat mengerami telur di sarang. Teori itu tampaknya sangat cocok untuk sikatan belang.

Mereka tinggal di hutan-hutan pegunungan yang sejuk, biasanya di ketinggian 1.000 sampai 2.600 meter di atas permukaan laut. Hutan cemara, hutan lumut, atau hutan campuran yang lembap adalah rumah idealnya. Tempat seperti itu kaya serangga dan memberi perlindungan sempurna. Tapi, habitat spesifik ini juga membuat mereka rentan. Daftar Merah IUCN tahun 2024 mencatat, perubahan pada hutan pegunungan bisa langsung mengancam populasi mereka.


Halaman:

Komentar