Wilayah sebarannya sebenarnya luas, dari Himalaya hingga Asia Tenggara. Di Indonesia, ia ada di Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, sampai ke timur. Tapi jangan harap mudah menemukannya. Kehadirannya sangat lokal, hanya di spot-spot dataran tinggi tertentu. Ia memang penghuni sejati dunia yang jauh dari keramaian kita.
Cara makannya unik. Ia akan duduk diam di sebuah dahan, lalu tiba-tiba melesat cepat menangkap serangga yang terbang atau yang hinggap di daun, lalu kembali lagi ke tempat bertengger semula. Pola "serang dan kembali" ini sangat efisien, menghemat banyak energi. Paruhnya yang kecil dan runcing, serta kakinya yang kokoh, adalah perlengkapan sempurna untuk gaya berburu seperti ini.
Lalu bagaimana dengan suaranya? Sikatan belang bukanlah juara kicau. Suaranya adalah siulan bernada tinggi, agak melengking, dengan pola naik-turun yang teratur. Bagi telinga yang tidak terbiasa, mungkin terdengar sederhana. Tapi kicauan itulah yang menjadi alat komunikasi dan penanda wilayah bagi mereka.
Ketika musim berbiak tiba, sikatan belang menunjukkan sisi lain. Mereka membangun sarang berbentuk cawan rapi dari lumut dan serat halus, biasanya diletakkan tinggi di cabang pohon. Sang betina akan mengerami satu hingga tiga butir telur berwarna coklat kekuningan gelap selama kurang lebih dua minggu. Mereka umumnya monogami dalam satu musim, dan kedua induk bekerja sama, meski betina lebih banyak berperan dalam mengeram dan merawat anak-anaknya yang baru menetas.
Secara resmi, status konservasinya masih Least Concern atau berisiko rendah. Populasi globalnya dianggap stabil. Tapi status itu jangan membuat kita tenang-tenang saja. Ancaman seperti penggundulan hutan, fragmentasi lahan, dan perubahan iklim adalah bayangan gelap di masa depan. Burung kecil seperti ini seringkali terlewat dari perhatian kebijakan konservasi yang lebih sering terpaku pada satwa besar dan karismatik.
Padahal, peran ekologisnya tidak bisa dianggap remeh. Sebagai pemakan serangga, ia membantu mengendalikan populasi hama alami di hutan. Kehilangan mereka bisa mengacaukan keseimbangan yang sudah rapuh.
Pada akhirnya, mengenal sikatan belang mengajarkan kita untuk lebih peka. Tidak semua yang penting harus berteriak atau tampil mencolok. Alam justru banyak diisi oleh makhluk-makhluk pendiam seperti ini, yang setia menjalankan tugasnya tanpa banyak sorotan.
Dia tidak bersuara keras, warnanya pun sederhana. Tapi kehadirannya adalah penjaga harmoni yang sunyi. Mungkin dari burung kecil inilah kita bisa belajar arti sebenarnya dari keseimbangan.
Artikel Terkait
Samsung Siapkan 3.800 Galaxy Z Flip7 Edisi Olimpiade untuk Atlet Milano Cortina
Waspada Gempa, Begini Cara Pasang Alarm di Ponsel Android
Sapi Jenius di Austria: Veronika yang Mahir Menggaruk Punggungnya Sendiri dengan Alat
Wabah Nipah Kembali Mengguncang India, Tenaga Medis Turut Terjangkit