Empat Pilar Kunci Telkomsel untuk Genjot Ekonomi Digital 2045

- Jumat, 09 Januari 2026 | 10:06 WIB
Empat Pilar Kunci Telkomsel untuk Genjot Ekonomi Digital 2045

Masa depan ekonomi digital Indonesia tak cuma soal berapa banyak aplikasi baru atau orang yang online. Itulah pesan inti yang disampaikan Telkomsel. Menurut perusahaan ini, kunci utamanya justru terletak pada ekosistem yang kuat dan dibangun secara menyeluruh. Untuk mencapainya, mereka membeberkan empat pilar yang harus digarap serius jika ingin mengejar target pemerintah di tahun 2045.

Keempat pilar itu adalah Infrastructure & Manufacturing, Technology Ecosystem, Application Boom, dan Rethinking Education. Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, menegaskan bahwa keempatnya harus berjalan beriringan. Saat ini, kontribusi ekonomi digital terhadap PDB masih berkisar di angka 8 persen. Padahal, pemerintah punya target yang jauh lebih ambisius: 20 persen pada 2045 mendatang.

"Artinya, positifnya, masih banyak room to grow-nya untuk digital economy di Indonesia," ujar Nugroho.

Pernyataan itu disampaikannya dalam acara Trilogi Pitching Festival, Drivin Change Series 6, di Universitas Trilogi, Jakarta, Kamis (8/1).

Infrastructure & Manufacturing: Fondasi yang Masih Rapih

Pilar pertama yang disorot adalah infrastruktur dan manufaktur. Di sini, Nugroho melihat titik lemah Indonesia dibanding negara tetangga. Ekonomi digital, katanya, mustahil melesat tanpa konektivitas yang mumpuni dan adopsi teknologi di lini produksi.

Ia lalu memberi gambaran yang cukup kontras: pabrik-pabrik di China yang sudah sepenuhnya otomatis. Contoh ekstremnya adalah fasilitas produksi mobil milik Xiaomi. Pabrik itu bisa menghasilkan satu unit mobil setiap dua menit, semuanya berjalan otomatis dalam kondisi 'pabrik gelap' tanpa campur tangan manusia.

Technology Ecosystem: Pembeda yang Krusial

Lalu ada pilar kedua: Technology Ecosystem. Menurut Nugroho, inilah pembeda utama antara negara yang sukses dan yang tertinggal. Problemnya, banyak perusahaan digital di Indonesia masih jalan sendiri-sendiri, tidak terhubung dalam sebuah ekosistem yang solid.

Ia membandingkannya dengan China. Di sana, WeChat bukan cuma aplikasi chat biasa. Platform itu telah menjadi sebuah jagat raya digital tersendiri yang mengintegrasikan pembayaran, cloud, AI, big data, bahkan sistem operasi. Semua terhubung dalam satu ekosistem raksasa.

Application Boom: Euforia dan Realitas

Pilar ketiga adalah Application Boom. Fase ini memang sedang terjadi di Indonesia, ditandai dengan meledaknya jumlah aplikasi digital dalam beberapa tahun terakhir. Nugroho mengakui prestasi itu. Banyak aplikasi lokal punya basis pengguna besar dan nilai transaksi yang fantastis.

Tapi di sisi lain, ia mengingatkan agar kita tak terjebak euforia. Pertumbuhan yang pesat tak selalu mencerminkan kesehatan bisnis yang sebenarnya. Seringkali, yang jadi patokan cuma metrik-metrik semu seperti jumlah pengguna aktif atau nilai transaksi kotor.

"Di Indonesia kemarin booming aplikasi dengan monthly active user (MAU) tinggi, daily active user (DAU) tinggi, gross transaction value (GTV) besar. Tapi pada akhirnya, profit is king," katanya.

Bagi Telkomsel, aplikasi harus dilihat sebagai bagian dari rantai nilai yang lebih panjang. Mereka mencoba menerapkan ini lewat platform seperti MyTelkomsel, yang punya sekitar 60 juta pengguna aktif bulanan. Di sini, aplikasi bukan sekadar alat cari pengguna, tapi bagian dari model bisnis yang terintegrasi dan yang paling penting berkelanjutan.

Rethinking Education: Titik Penentu Jangka Panjang

Pilar terakhir ini mungkin yang paling menentukan untuk jangka panjang: Rethinking Education. Nugroho menilai Indonesia masih punya pekerjaan rumah besar di sektor pendidikan. Skor PISA yang rendah dan akses terhadap pendidikan tinggi berkualitas yang terbatas adalah buktinya.

Sebagai bentuk kontribusi, Telkomsel mulai berinvestasi pada pengembangan SDM melalui kolaborasi dengan kampus. Salah satu langkah nyatanya adalah peluncuran AI Innovation Hub bersama Institut Teknologi Bandung (ITB). Harapannya, pusat ini bisa jadi wadah untuk membangun kompetensi di bidang kecerdasan buatan dan teknologi digital lainnya.

"Dengan digitalisasi di bidang learning and education, diharapkan tingkat pendidikan Indonesia bisa semakin naik, sehingga kita bisa melakukan reskilling, upskilling yang dibutuhkan oleh Indonesia untuk support digital economy di 2045," jelas Nugroho.

Pada akhirnya, Telkomsel memposisikan diri sebagai salah satu penggerak dalam mesin besar ekonomi digital Indonesia. Target 2045, kata Nugroho, tak akan tercapai tanpa kolaborasi nyata dari semua pihak dan keberanian untuk membenahi fondasi secara struktural. Itulah tantangan sebenarnya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar