Jangan buru-buru menyalahkan si anak sebagai pemalas. Soalnya, lingkungan rumah punya pengaruh yang luar biasa besar. Tanpa pendampingan dan aturan main yang konsisten soal gawai, anak bakal bingung membedakan mana waktu untuk serius, mana waktu untuk bersantai.
Di sisi lain, anak itu peniru ulung. Coba perhatikan, kalau orang dewasa di rumah juga sibuk sendiri dengan layar masing-masing, apa yang akan ditangkap oleh anak? Pesannya sederhana: gadget adalah pusat dunia. Dalam kondisi seperti ini, wajar saja kalau kebiasaan disiplin dari sekolah perlahan menguap.
Lalu, solusinya apa? Kuncinya sebenarnya ada pada kolaborasi. Apa yang dibangun di sekolah harus dapat penguatan di rumah. Gadget nggak perlu diharamkan, tapi perlu dikelola dengan bijak. Misalnya, buat kesepakatan bareng: tugas sekolah harus beres dulu, baru boleh main gim atau buka media sosial.
Pada akhirnya, teknologi bukanlah musuh. Tantangan sebenarnya terletak pada bagaimana kita mengelolanya. Kalau rumah bisa menciptakan atmosfer yang mendukung dengan contoh dan aturan yang jelas anak akan lebih mudah membawa kebiasaan baiknya dari sekolah. Mereka tetap bisa menikmati kemajuan zaman, tanpa harus mengorbankan tanggung jawabnya sebagai pelajar.
Artikel Terkait
Salah Dengar Lirik Lagu? Itu Bukti Otakmu Sedang Berpikir Keras
Antarmuka: Penerjemah Tak Kasat Mata yang Menentukan Nasib Tanaman Hidroponik
Soundcore Luncurkan Earbuds Tidur yang Bisa Netralisir Dengkuran
Meta Rogoh Rp 32 Triliun untuk Akuisisi Startup AI Singapura, Manus