Tahun ini, sentimen pasar berbalik arah. Setelah bertahun-tahun meroket, saham-saham raksasa teknologi dunia justru terperosok. Nilai pasar mereka menyusut tajam, memangkas triliunan dolar dalam hitungan pekan. Investor, rupanya, mulai mempertanyakan segalanya.
Keraguan itu berpusat pada satu hal: Artificial Intelligence (AI). Apakah pengeluaran miliaran dolar untuk mengembangkan teknologi ini benar-benar akan membuahkan hasil setimpal? Atau justru menjadi lubang hitam yang menggerus keuntungan? Pertanyaan itulah yang kini menghantui lantai bursa.
Microsoft, misalnya. Sahamnya anjlok sekitar 17 persen sejak awal tahun. Kekhawatiran muncul menyusul persaingan sengit dari model Gemini terbaru Google dan agen AI Claude dari Anthropic. Tekanan itu menghapus sekitar USD613 miliar dari nilai pasarnya, yang kini menyentuh angka USD2,98 triliun per pertengahan Februari.
Nasib serupa dialami Amazon. Raksasa e-commerce ini kehilangan sekitar USD343 miliar, dengan penurunan saham mencapai 13,85 persen. Nilai pasarnya pun menyusut menjadi sekitar USD2,13 triliun. Padahal, awal bulan ini mereka justru memproyeksikan kenaikan pengeluaran modal lebih dari 50 persen tahun ini. Sebuah sinyal yang justru makin membuat investor waswas.
Gelombang penurunan ini nyaris merata. Nvidia, sang juara chip AI, kehilangan hampir USD90 miliar. Apple tercatat turun fantastis, USD256,44 miliar menguap. Alphabet, induk Google, juga tak luput, dengan penyusutan nilai pasar sekitar USD88 miliar.
Menurut sejumlah analis, apa yang terjadi sejak awal 2026 ini bukan sekadar koreksi biasa. Ini adalah pergeseran psikologi pasar yang signifikan. Investor mulai lelah dengan cerita ambisi jangka panjang. Mereka kini lebih memilih visibilitas laba yang jelas dan bisa diraih dalam waktu dekat. Antusiasme spekulatif terhadap AI perlahan digantikan oleh sikap hati-hati.
Namun begitu, tidak semua perusahaan terpuruk. Di tengah kemerosotan Big Tech, justru ada nama-nama lain yang bersinar. TSMC dan Samsung Electronics, misalnya, malah mencatatkan kenaikan nilai pasar yang luar biasa, masing-masing bertambah hampir USD300 miliar dan USD270 miliar. Retailer raksasa Walmart juga ikut naik, menambah sekitar USD180 miliar.
Perbedaan nasib yang mencolok ini menunjukkan satu hal: uang tidak hilang, ia hanya berpindah tempat. Dari sektor teknologi yang dianggap terlalu panas dan penuh ketidakpastian, dana mengalir ke perusahaan dengan fundamental yang dianggap lebih solid dan prospek keuntungan yang lebih terlihat nyata. Lanskap pasar global, tampaknya, sedang mengalami reset.
Artikel Terkait
BRI Group Raih Empat Penghargaan Keuangan Berkelanjutan di Singapura
Dua Komisaris Mundur, TRON Tetap Lanjutkan Ekspansi ke Bisnis Stasiun Isi Ulang Kendaraan Listrik
Pemerintah Pastikan THR ASN Rp55 Triliun Cair Awal Puasa 2026
S&P DJI Lanjutkan Rebalancing Indeks di Indonesia, Pantau Perkembangan Regulasi BEI