Misteri di Balik Pusing Saat Pakai Masker: Fisika Partikel dan Batas Perlindungan Kita

- Minggu, 28 Desember 2025 | 22:06 WIB
Misteri di Balik Pusing Saat Pakai Masker: Fisika Partikel dan Batas Perlindungan Kita

Liburan Nataru memang punya pesonanya sendiri, ya? Meski langit sering mendung dan hujan turun, semangat untuk mudik atau sekadar jalan-jalan rasanya tak pernah padam. Kita rela mengeluarkan uang lebih dan menghadapi kemacetan berjam-jam demi momen berkumpul dengan keluarga. Tapi, di tengah euforia tahunan ini, ada satu benda yang hampir selalu menempel di wajah: masker.

Kita berharap selembar kain atau masker bedah itu bisa jadi tameng bagi paru-paru dari serbuan polusi dan asap kendaraan. Tapi pernah nggak sih, merasa pusing atau sesak meski sudah pakai masker sepanjang hari? Ternyata, sains punya jawaban yang cukup mengejutkan tentang cara kerja pelindung wajah kita ini.

Partikel Nakal dan Tarian Einstein

Musuh utamanya adalah PM 2.5, partikel super halus yang ukurannya jauh lebih kecil dari rambut. Ancaman sebenarnya bukan cuma ukurannya, lho. Yang bikin sulit adalah cara mereka bergerak. Di sinilah teori Albert Einstein tentang Gerak Brown memberi pencerahan.

Einstein menunjukkan bahwa partikel mikroskopis ini tidak jatuh begitu saja ke tanah. Mereka justru bergerak acak, zig-zag, karena terus menerus ditabrak oleh molekul udara di sekitarnya. Seperti tarian yang tak beraturan.

Nah, bagi kesehatan kita, ini berita buruk. Gerakan zig-zag yang lincah itu membuat PM 2.5 tidak langsung menabrak serat masker. Mereka bisa dengan lihai menyelinap lewat pori-pori masker kain yang longgar, bagai melewati celah yang terbuka.

Celah yang Menipu

Karena itu, banyak yang beralih ke masker bedah, berharap perlindungannya lebih baik. Tapi secara fisika, udara punya sifat cari gampangnya: ia selalu mengambil jalur dengan hambatan terendah.

Karena masker bedah jarang menutup wajah dengan rapat sempurna, udara kotor lebih suka masuk lewat celah di samping pipi atau atas hidung. Daripada susah-susah menembus lapisan filternya. Memakai masker yang longgar di tengah polusi tinggi ibaratnya mau menangkap debu pakai jaring ikan yang bolong-bolong.

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar