Trump Pacu Ambisi Bulan 2028, Perkuat Dominasi AS di Luar Angkasa

- Selasa, 23 Desember 2025 | 16:42 WIB
Trump Pacu Ambisi Bulan 2028, Perkuat Dominasi AS di Luar Angkasa

Donald Trump kembali mengangkat isu luar angkasa. Lewat perintah eksekutif baru yang dikeluarkan Kamis lalu, Presiden Amerika Serikat itu menetapkan target yang ambisius: menginjakkan kaki manusia di Bulan lagi pada 2028. Tak cuma itu, dokumen itu juga menyentuh soal persenjataan antariksa.

Ini jadi langkah kebijakan luar angkasa besar pertama di masa jabatan keduanya. Struktur koordinasi kebijakan pun dirombak, kini berada di bawah pengawasan penasihat sains Trump, Michael Kratsios.

Judul perintah eksekutif itu terang-terangan: "ENSURING AMERICAN SPACE SUPERIORITY" atau Menjamin Keunggulan Luar Angkasa Amerika. Isinya meminta Pentagon dan badan intelijen AS untuk merancang strategi keamanan khusus antariksa. Ada juga dorongan untuk efisiensi di kalangan kontraktor swasta dan program demonstrasi teknologi pertahanan rudal yang dijuluki "Golden Dome".

Perintah ini muncul di waktu yang menarik. Baru-baru ini, miliarder dan mantan pelanggan SpaceX, Jared Isaacman, dilantik jadi administrator NASA yang ke-15.

Meski sempat ada desas-desus akan dibubarkan, Dewan Antariksa Nasional ternyata tetap dipertahankan. Hanya saja, strukturnya berubah. Presiden berpeluang menjadi ketuanya langsung, bukan lagi wakil presiden, dan badan ini akan bernaung di bawah Kantor Kebijakan Teknologi Gedung Putih.

Target 2028: Ambisi Lama yang Dihidupkan Kembali

Target mengirim manusia ke Bulan sebenarnya bukan hal baru bagi Trump. Di 2019, dia pernah mencanangkan misi serupa untuk tahun 2024. Sayangnya, target itu meleset. Penyebabnya, penundaan pengembangan dan pengujian roket SLS milik NASA serta Starship dari SpaceX.

Yang menarik, tahun 2028 justru bukan angka baru. Itu adalah target yang sudah dicanangkan sejak era Presiden Barack Obama. Jadi, kebijakan Trump ini seperti memperbarui dan mengukuhkan kembali fokus AS pada satelit alami Bumi itu.

Kalau berjalan sesuai rencana, pendaratan pada 2028 akan menjadi bagian dari program Artemis NASA. Program ini dirancang untuk membangun kehadiran manusia jangka panjang di Bulan. Persaingan dengan China jelas jadi latar belakangnya. Negeri Tirai Bambu itu sendiri menargetkan pendaratan awak manusia pertamanya pada 2030.

Perintah eksekutif terbaru ini bahkan lebih jauh. Dokumen itu menyerukan pembentukan "elemen awal pangkalan Bulan permanen pada 2030". Ini sejalan dengan tujuan NASA untuk membangun pangkalan jangka panjang, lengkap dengan sumber tenaga nuklir.

Di awal masa jabatan keduanya, Trump seringkali bicara tentang Mars. Itu sejalan dengan prioritas Elon Musk, pendiri SpaceX yang juga donatur besar dan pernah jadi penasihat pemerintah. Namun begitu, Kongres tahun ini justru mendesak fokus tetap pada Bulan. Para legislator menekan Isaacman agar berpegang teguh pada program Bulan yang sudah menelan miliaran dolar anggaran.

Ada hal yang cukup mengejutkan. Di bawah dorongan efisiensi yang dipimpin Musk, Gedung Putih telah memangkas staf NASA sebanyak 20 persen. Mereka juga mengupayakan pemotongan anggaran hingga 25 persen dari anggaran normalnya yang mencapai sekitar Rp 419,5 triliun pada 2026. Langkah ini berisiko mengganggu puluhan program sains antariksa yang dianggap penting oleh para ilmuwan.

Jared Isaacman, yang rencananya akan berpidato di depan seluruh karyawan NASA, punya pandangan sendiri. Ia percaya badan antariksa itu harus mengejar Bulan dan Mars secara bersamaan. Tapi, prioritas utama tetaplah mengembalikan manusia ke Bulan untuk mengungguli China.

Semua target 2028 itu, pada akhirnya, sangat bergantung pada satu hal: kemajuan pesawat pendarat raksasa Starship milik SpaceX. Pengembangannya sebelumnya sempat dikritik karena dianggap terlalu lamban.

Jejak Panjang AS di Bulan

Cerita AS dengan Bulan dimulai dengan program Apollo (1961-1972). Program ambisius inilah yang berhasil mendaratkan manusia pertama di sana pada 20 Juli 1969. Nama Neil Armstrong dan Buzz Aldrin pun tercatat sejarah sebagai orang pertama yang menginjakkan kaki di permukaan bulan. Enam misi pendaratan berhasil dilakukan.

Setelah era Apollo, tidak ada lagi misi berawak ke Bulan. Fokus beralih ke program robotik seperti Pioneer, Surveyor, dan Lunar Prospector untuk terus melakukan eksplorasi dan pemetaan dari jauh.

Kini, semua mata tertuju pada program Artemis yang dimulai sejak 2017. Program eksplorasi NASA ini bertujuan membawa manusia kembali ke Bulan, termasuk wanita pertama dan orang kulit berwarna pertama. Tujuannya membangun kehadiran jangka panjang. Dengan menggandeng mitra swasta dan internasional, target pendaratan manusia kini diarahkan pada tahun 2028, sesuai perintah terbaru Trump.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar