Kekhawatiran serupa datang dari Michael O'Leary, CEO Cinema United. Asosiasi perdagangan film terbesar di dunia itu bersuara lantang.
"Keberhasilan Netflix ada di televisi, bukan di layar lebar. Bioskop-bioskop akan tutup, masyarakat dirugikan, dan lapangan kerja hilang," tegasnya.
Sebelumnya, Co-CEO Netflix Ted Sarandos pernah berkomentar bahwa era penonton berbondong-bondong ke bioskop memang sudah berakhir. Tapi kali ini, dia berusaha meredam ketakutan. Sarandos berjanji akan tetap mempertahankan rilis film Warner Bros. di bioskop dan menjaga merek HBO Max. Sayangnya, pasar saham seperti tidak percaya. Harga saham Netflix sempat anjlok lebih dari 3 persen setelah pengumuman.
Di sisi lain, pengamat persaingan usaha ikut angkat bicara. Mereka menyoroti risiko monopoli yang nyata, di mana Netflix berpotensi menguasai porsi industri hiburan global secara sangat dominan.
Di Washington, penolakan justru datang dari kedua kubu politik. Senator Demokrat Elizabeth Warren memperingatkan potensi kenaikan harga langganan dan menyempitnya pilihan bagi konsumen.
Senator Republik Mike Lee punya nada serupa. Dia menilai akuisisi ini harusnya jadi alarm bagi otoritas antitrust di berbagai negara.
Lalu, siapa yang paling merasa dirugikan? Tampaknya Paramount Skydance. Pesaing Warner Bros. yang dimiliki taipan Larry Ellison sekutu dekat Donald Trump ini sebelumnya berusaha membeli Warner Bros. Discovery secara penuh. Mereka menuding proses penawaran berjalan tidak adil dan cenderung menguntungkan Netflix. Paramount, yang dipimpin David Ellison, ingin mendapatkan studio itu beserta jaringan TV kabel seperti CNN, TNT, dan TBS. Kini, harapan itu pupus.
Artikel Terkait
Sony LinkBuds Clip Resmi Hadir, Tren Open Ear Kini Makin Nyata
Telkomsel Pamerkan Kiprah Digital Indonesia di Panggung Elite Davos
Blibli Buka Toko Fisik, Klaim Bisa Atasi Pusing Belanja Online
Oppo Resmi Luncurkan Reno 15 Series di Indonesia, Harga Mulai Rp 5,5 Jutaan